Subscribe Via Email (Do Not Edit Here!)








Minggu, 22 Juni 2014

Akhir semester dua

Hai, selamat malam, apa kabar kalian? Sudah cukup lama blog ini tidak update. Alasan utamanya adalah kesibukan saya sebagai mahasiswa. Ya, bagi saya yang baru saja menyelesaikan semester 2 mungkin sedikit berlebihan, tapi memang inilah yang terjadi, tugas-tugas yang menumpuk dan kegiatan kampus membuat saya tak mencoba menulis postingan di blog ini.

Jangan kan menulis, untuk mencari waktu tidur saja sulit.

Oke, kemarin sudah ada yang menanyakan film yang saya buat dengan UKM saya. Tunggu waktuya, saat ini sedang dalam proses pengeditan. Oh ya, saya juga diberi tugas akhir untuk menciptakan project kreatif kelas Komunikasi Lintas Budaya. Di dalam tugas akhir ini saya menciptakan video singkat yang mengulas mengenai perbedaan pendapat mengenai aborsi, ada yang pro dan kontra serta saya dan kelompok saya melakukan wawancara dengan satu lsm yang pro dengan aborsi.
Namun tentu saja hasilnya kurang begitu bagus untuk saya. Masih bnayak kurang di sana sini. Bahkan yang saya khawatirkan adalah video ini akan cukup membosankan. Maklum saja, dari awal pembuatan, rencana, eksekusi dan proses edit dilakukan oleh saya dan hanya dibantu satu teman saya ditambah kemampuan perencanaa, ekseskusi dan edit yang minim. Skill kami masih lah rendah untuk menciptkan film atau video dokumenter.

Berkaitan dengan akhir semester 2 ini, akan dimulai semester 3 yang baru bagi saya, dengan konsentrasi jurnalisme. Entah siapa saja teman dan dosen yang saya temui serta mata kuliah yang akan saya pelajari saya masih belum mengetahuinya. Saya hanya berharap saya diberi kemampuan untuk menghadapi semester demi semester.

Liburan ini saya isi dengan tidak menggunakan waktu liburan saya dan bergabung dengan jaringan tv campus universitas saya. Sangat berat memang, bekerja dimana tiap orang sedang santai dan memang waktunya untuk santai, tapi saya hanya berharap semoga jerih payah saya nanti akan sepadan dengan apa yang saya peroleh nanti.

Semester 2 ini juga diakhiri dengan indah.berjalan-jalan dan bersantai ria dengan  kawan saya, @arturharuka, @antikabell, @albertusgilang dan @michaiueo menikmati kue terang bulan nutella. Dan saya sudah melampiaskan rasa penasaran saya akan rasa martabak legendaris yang sangat sangat enak itu, ya , saya sudah tenang.

Oh ya sebagai penutup, ada yang bisa membantu / memberi saran untuk memperbaiki sd card (memory card kecil) ? Milik saya rusak, semua file di dalamnya tidak terdeteksi dan tidak bisa dibuka dengan tulisan yang menganjurkan memory untuk diformat. Namun, entah kenapa tidak bisa diformat. Berbagai cara sudah saya lakukan mulai dari menggosokkan penghapus, memakai command prompt, memakai aplikasi bermacam-macam, hingga mencari id product dan mencoba mencari aplikasi yang berkaitan dengan product tersebut. Entahlah, bahkan untuk di format saja memory ini tidak bisa.
Tolong saya, memory memang bisa dibeli kembali, tetapi kenangan yang tertulis didalamnya cukup berharga bagi saya T______T mulai saat ini untuk sementara ponsel saya kurang prima dalam menjalankan tugasnya huhuhu
{ Read More }


Instrumen Langit



Di sisi jalan, sebuah palang berdiri dengan tegak menyorotkan warna merah. Tugasnya sederhana, memerintah kami untuk berhenti atau berjalan. Kami semua memberhentikan kendaraan kami, mempersilakan pengguna kendaraan dari arah berlawanan untuk berjalan. Lampu kelap-kelip kendaraan seakan berusaha mewarnai selimut gelap yang membungkus kota ini. Tidak mau kalah, seluruh bangunan kota ini juga memancarkan cahaya warna-warni, tidak ingin ditelan oleh selimut malam. Semuanya seakan berjalan lambat. Entah karena aku yang tak terburu-buru atau semua pemandanganku hanyalah gelap dengan lampu sesekali. Atau mungkin, karena kau yang menikmati malam ini, semua pemandangan yang kau bagi denganku.

Sengaja tak kupacu sepeda motorku cepat-cepat, karena aku ingat betul kau sedang menikmati malam itu. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutmu dalam perjalanan pulang. Yang kulihat dari cermin motorku hanyalah matamu yang melihat kesana kemari, terlihat penasaran namun bahagia. Senyum kecil dari bibirmu membuatku tenang, kau betul-betul tak ingin diganggu saat perjalanan itu.

“Langit malam ini bagus ya?” katamu memecah keheningan. Aku heran. Kata-katamu membuyarkan konsentrasiku pada jalanan malam itu. Ku alihkan pandangku pada hal yang menjadi perhatianmu. Tak ada yang menarik dari langit yang kulihat saat ini. Semuanya gelap. Sebuah kepolosan berwarna gelap. Hanya ruang kosong gulita, seperti yang ku temui saat memejamkan mata kala terbenam dalam ranjangku. Tak ada bintang dan bulan, tak ada hal yang bisa membuat mu terkejut. Aku terheran, akan ucapanmu. Entahlah apa yang kaupikirkan. Entahlah apa yang menjadi pusat perhatianmu. Aku selalu tak bisa mengetahui jalan pikirmu.

“Bagus?” kata-kata yang hanya bisa kuucapkan saat itu. Tak ada kata-kata yang cukup bisa menggambarkan keherananku saat itu. “Iya, bagus. Coba kau lihat, sayang sekali tidak semua orang menyadarinya” jawabmu dengan kepala mendongak ke atas. Entahlah, aku hanya bisa melirik ke atas sesekali, aku tak mau melepaskan pandang dari jalanan, kau harus pulang, mungkin ini efek demam, harus cepat-cepat pulang dan minum obat, setelah itu tidur. Dokter baru saja bilang kau butuh istirahat cukup. Obat dan istirahat sudah cukup untuk membebaskanmu dari demam.

Kupacu sepeda motorku cepat-cepat. Hari makin malam, tak baik untukmu menikmati angin malam. Dokter menyarankanmu untuk tidak berkendara jauh-jauh untuk sementara. Oh ya, dokter juga berkata untuk menghindari makanan pemicu. Semua demi kesehatanmu. Aku terheran, kau masih mampu tersenyum. Dalam sendu dan sakitmu, kau masih mampu terlihat cerah di mataku. Senyum yang mampu membuat para pria menggila di luar sana. Ya, bukan hanya aku seorang yang mampu terpesona dan mengetahui indah senyummu. Kau berbeda, kau indah. Bagaikan bunga berwarna menyala di padang rumput hijau. Badanmu lemah, namun aku tahu kau tetap kuat. Kau bukanlah seseorang yang ingin terlihat mencari pertolongan. Aku tahu kau adalah seorang yang mencari jalan untuk tetap berdiri kokoh di kedua kakimu sendiri. Namun kali ini berbeda, aku ada, karena aku tahu, kau pantas diberi bantuan. Semua demi kesehatanmu.

Aku tak tinggal diam saat kau berkata sakit. Aku bukanlah orang yang pandai memilah kata untuk membuatmu tetap kuat dalam sakitmu. Aku bukanlah orang yang cerdas yang tahu penawar untuk segala sakitmu. Yang kutahu hanyalah mengetuk pintu rumahmu, memberikan sejumlah doa dan mengharapkan yang terbaik untukmu. Semua kulakukan demi kamu.

Ucapan terimakasihmu dan lekas sembuh dari ku mengakhiri perjalananmu dari rumah sakit. Senyum simpul dan lambaian tanganmu perlahan-lahan sirna kala ku makin menjauh dan pintu rumahmu tertutup. Jalanan semakin sepi, aku pun perlu istirahat untuk kebaikan diriku sendiri. Gelap malam menyelimutiku erat-erat, ia sudah menjadi sahabatku selama ini kala sendiri.

Masih terpikir olehku ucapanmu akan langit saat perjalanan tadi. Kutatap langit untuk mencari tahu apa yang terluput dari pandanganku. Semuanya tetap gelap, namun kilat menari-nari memaksaku untuk cepat pulang. Langit masih tetap sama, dia tetap di tempatnya. Namun pemandangan indah tertangkap olehku. Keseimbangan akan gelap langit malam diiringi titik-titik cahaya dan kilat-kilat seakan menjadi suatu hiburan bagiku. Ia seakan menjadi suatu instrumen. Tak perlu kau memaknainya dengan kata-kata, namun kau tahu hal itu tetap indah. Apakah ini yang kau lihat? Suatu instrumen langit, yang diciptakan oleh Tuhan sendiri? Mengapa kau bisa menyadarinya? Tidak kah kau mau berbagi sedikit pemandangan denganku?

Namun langit tetaplah langit. Keindahannya hanya bisa dinikmati, tanpa bisa kau dekati, tanpa bisa kau petik. Ia sangat jauh, terlalu besar jarak antara manusia dengan langit. Langit selamanya akan menjadi suatu karya keindahan, tanpa kau bisa turut campur di dalamnya.

Apakah kau menyadari, bahwa kau telah menjadi suatu karya keindahan bagiku? Suatu karya yang hanya bisa dinikmati, tanpa bisa kuciptakan. Kau adalah langit bagiku. Sesuatu yang diciptakan dan ditakdirkan indah. Namun langit tetaplah langit. Kau menjadi suatu keajaiban yang tak terjangkau olehku. Andai aku bisa, aku hanya ingin menghapus jarak di antara kita. Entahlah, raga ku seakan tak kuasa untuk menjangkau jarak. Mungkin keindahan hanyalah menjadi seni belaka, ia hanya bisa dinikmati, tanpa perlu dimiliki. Mungkin aku harus sadar, semuanya terlalu jauh bagiku. Mungkin aku harus sadar, langit bukanlah untukku. Mungkin aku harus sadar, semuanya harus berakhir disini, karena langit hanya bisa dipandang dan dinikmati.

Titik air kecil-kecil memukul wajahku. Langit menunjukkan sikapnya. Aku harus menghindari langit.
{ Read More }


IconIconIconFollow Me on Pinterest

Blogger news

Blogroll

What's Hot