Postingan kali ini bermula dari pengalaman saya makan siang kemarin. Hari minggu kemarin kalau tidak salah, sudah lupa, ya sudahlah, itu juga tidak terlalu penting. Sebagai anak kos yang teladan, menikmati makan siang di luar adalah hal yang lumrah. Dan anak kos biasanya tidak punya kemampuan masak-memasak, bisa pun hanya menu2 lumrah dan murah seperti mi instan dan mentok-mentok nasi goreng. Kalau anak kos memang terbiasa membeli makan di luar, pokoknya menghindari masak sendiri.
Untuk memenuhi permintaan perut yang sudah meronta, saya mampir ke warung, bisa dibilang tempat makan, namanya Yamie Yo. Warung makan ini menjual bermacam-macam mi, mi biasa hingga mi hijau yang dicampur sayur. Selain itu ada banyak menu lain seperti nasi goreng, ayam goreng dan lain lain. Kali itu saya sedang ingin makan ayam katsu. Harganya juga tidak mahal kok, ramah lah untuk kantong mahasiswa.
Dan kali itu saya makan sendiri. Ya, saya sudah terbiasa makan sendiri. Tidak punya gandengan atau pasangan atau yang lazim disebut pacar membuat saya terbiasa makan sendiri. Saya juga bukan orang yang makan harus ditemani kok. Memang lebih asyik kalau ada teman untuk makan, tapi saya sudah terbiasa sendiri. Sejak saya kecil, saya sudah sering ditinggal di rumah sendirian. Karena tidak bisa memasak, saya mau tidak mau menjadi mandiri untuk mencari makan sendiri. Oleh sebab itu saya sudah terbiasa makan sendirian.
Warung Yamie Yo saat itu sedikit sepi. Ada 2 orang makan di pojok dalam, dan saya melewati serombongan cewek-cewek yang berjumlah 6 dan 2 cowok yang sedang makan satu meja. Selain itu tidak ada pelanggan lain di warung tersebut. Selagi saya berjalan melewati rombongan 8 orang yang sedang makan tersebut, ada cewek yang nyeletuk,
"Tuh kan! Anak SMP aja makan disini!"
Untuk ukuran orang yang gosip atau spontan, suaranya tergolong kencang. Saya mendengar ucapan cewek tadi. Selagi masih berjalan, saya mencari-cari siapa orang yang dituju cewek tersebut.
Tidak ada orang lain selain saya.
Bukan mas-mas yang berada di pojokan, dia bukan anak SMP
Kokoh yang jualan Yamie Yo? pasti juga bukan, karena kokoh yang jualan layak dipanggil opa
Dan pasti cewek tersebut menujukan ucapannya pada saya.
Setelah saya memesan makan dan duduk, saya berpikir kenapa saya dikomentari seperti itu. Kata banyak orang, muka saya itu imut. Tetapi saya menyadari, saya belum lama mencukur jenggot saya. Mungkin dia anggap saya anak SMP karena jenggot yang sudah habis saya cukur ini.
Karena jenggot yang dicukur, saya dikira anak SMP
Tapi saya pun malas untuk menumbuhkan jenggot saya. Jujur, jenggot ini adalah pemberian gen dari papa saya yang berbulu lebat. Bisa dibilang, saya bukan cuma punya jenggot, tapi brewok, jenggot di leher hingga jambang. Pernah saya iseng menumbuhkan brewok dan jambang saya, dan saya sukses dipanggil "Bapak" dimana saja.
Berbeda saat jenggot saya yang belum lebat dulu, saya sering dikira anak SMP waktu SMA. Pokoknya keliatan kayak anak kecil kata mereka-mereka yang mengomentari wajah saya.
Ya, apabila doraemon punya mesin waktu di laci meja nobita, kalau saya, saya punya mesin waktu, tepat di bawah dagu saya. Dicukur saya jadi anak kecil. Ditumbuhkan dikira kebapakan. Dan sejujurnya, saya lebih suka dikira lebih muda daripada lebih tua, jadi saya lebih mantap untuk mencukur meski dianggap kekanakan.
Haha muka bocah :D
BalasHapus