Subscribe Via Email (Do Not Edit Here!)








Sabtu, 13 September 2014

Cerita Pendek: Dompet Seno



Jam weker masih menunjukkan angka 2, tetapi Seno masih saja terjaga. Entah sudah berapa kali ia terbangun dari tidurnya. Tak bisa ia tidur nyenyak malam ini, selalu saja dia terkejut. Denting piano sayup-sayup terdengar dari radio, yang biasa ia nyalakan untuk menemani tidurnya. Alunan musik lembut nan syahdu tak bisa membuatnya tenang, alih-alih mengantarnya ke alam mimpi. Sudah 3 hari tidur Seno tak nyenyak, tidur hanya sebentar-sebentar seperti bayi, meskipun badannya sudah amat lelah. Ia tahu pukul 6 nanti sudah harus bangun, sudah terbayang betul sibuknya hari ini. Tidak ingin ia mengecewakan kawan-kawannya dengan badan yang lemah dan mata yang loyo, sudah cukup panas telinganya di caci maki karena hilang konsentrasinya dan tertidur. 

Seno menarik selimutnya, mencoba tertidur. Matanya menatap jarum jam yang bergerak perlahan. Tik, tik, tik, tik, tik...... bunyi detak jam semakin kencang menghampiri telinganya. Perlahan perhatiannya teralih, menuju ingatannya seminggu yang lalu. Baru saja ia pulang ke kampung, karena pesan elektronik yang didapatnya dari kakaknya. “Cepat pulang, umur ayah tak lama lagi” pesan yang singkat namun padat makna tersebut membuatnya terburu-buru menembus pagi dan mencari bus yang berangkat saat subuh. Namun semuanya sudah terlambat, ayah sudah pulang ke rumah Bapa. Syukur Seno masih sempat bertemu ayahnya pada hari-hari terakhirnya. Dia mendapat tugas yang berat titipan ayahnya, menjaga ibu dan kakak perempuan satu-satunya, mengingat ia yang menjadi tulang punggung keluarganya sekarang. Ayahnya seorang pegawai negeri yang taat, namun sakit yang parah menghambatnya untuk kembali bekerja. Penghasilan ayahnya sedikit, dan perlu kerja yang sangat keras untuk dapat membiayai Seno kuliah, sedangkan ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga. Kakak perempuannya tidak dapat membantu banyak, gaji dari pegawai swasta sudah banyak habis untuk membayar cicilan rumah dan membiayai keponakan Seno yang baru menginjak 4 bulan. Kematian ayahnya sungguh menjadi pukulan yang berat untuk Seno. Uang yang disimpan keluarganya sudah habis untuk biaya berobat ayah, bahkan mau tak mau sepeda motor merah kebanggaan Seno yang diberikan ayah saat ulang tahun, harus digadaikan. Masih ingat betul ucapan ayahnya saat itu “Maafkan ayah nak, keadaan kita sekarang sangat sulit, uang masih bisa dicari, dan ayah yakin kau bisa membeli sepeda motor favorit mu sendiri”.

Sedikit demi sedikit, air mata menetes membasahi kain bantal. Ia tak pernah mengira harus menghadapi kenyataan pahit seperti ini. Tanpa uang bulanan dari ayahnya, keadaan akan semakin sulit, ia memikirkan ibunya yang berada di kampung. Namun yang ia hadapi sendiri adalah kenyataan bahwa untuk makan saja sulit, bahkan sebelum ayahnya meninggal, dan diperparah dengan menutupnya keran penghasilan keluarganya. Sudah terbayang di benaknya bagaimana ia akan melanjutkan kuliah. Akhir bulan ini uang semester ganjil harus lunas dibayar. Tidak ingin ia diperingatkan oleh pihak Tata Usaha karena ia biasa terlambat membayar biaya kuliahnya. Biaya kuliah yang cukup besar baginya, menjadi beban tersendiri dimana untuk membiayai hidupnya sendiri pun sulit. 

Tok tok tok..... Bunyi pintu diketuk. Tak berapa lama pintu terbuka. “Oh kau No, ada apa nih?” jawab dari sang pemilik kamar. “Hehe, tidak ada apa-apa, boleh masuk?” Ujar Seno, pelan.
“Masuklah, ada apa ini?”
“Sedang apa kau? Nonton tv?”
“Tentu saja aku sedang menonton tv, lihat saja tv nya menyala, ini pun sudah jadi kebiasaanku tiap pagi untuk cari berita, lucu sekali kau tanya seperti itu”
“Mana nya yang lucu?”
“Sen, kau sudah tahu kebiasaan menonton televisi ku setiap pagi, dan aku tahu kau sedang basa-basi. Apa yang kau inginkan, hah?”
“Eh, anu Nus,  kau ada uang berlebih tidak? Boleh ku pinjam?”
“Aih, kau ini No, sudah kutebak kalau kau pasti ingin pinjam duit. Selalu saja pinjam duit. Tolonglah No, kau saja belum mengembalikan uangku. Sudah berapa duit yang kau pinjam hah? Sudah berapa yang kau kembalikan, hah? Kembalikan dulu, baru aku percaya untuk kasih kau duit-duit lagi”
“Tapi, Nus....”
“Sudahlah No, aku sudah bosen selalu menjadi ATM di mata mu, yang selalu saja bisa kau tarik tunai kapan saja, aku pun juga butuh uang, bukan hanya kau”

Crik... asap mengebul dari mulut Yanusa, bau tembakau menjadi ciri khas dari kamar Yanusa.
“Dengar No, untuk kali ini aku berkata tidak. Aku sudah muak dengan kalimat minta-minta mu itu. Motorku butuh kupercantik, agar ada lagi cewek yang bisa aku bonceng, dan biaya untuk ganti velg sekarang naik, maka aku mohon pengertianmu juga lah”
“Ah, iya, sorry ya Nus”
“Ya”

Perlahan Seno melangkah dengan lesu keluar dari kamar Yanusa. Tak bisa ia pinjam-pinjam uang lagi dari teman satu kos nya itu. Pernah Seno meminjam uang darinya dan uang untuk menggantinya hilang entah kemana, hal itu sempat membuat temannya itu berang. Pintu kedua ia sambangi. Kali ini kamar milik Beni. Namun hasilnya sama saja, bahkan ditolak mentah-mentah. Memang, di kos tersebut Beni memiliki reputasi sebagai orang yang kikir, tetapi terpaksa Seno memohon dengannya.

Seno hanya terdiam di kamarnya. Hari sudah siang, namun ia tak beranjak dari kasur busa miliknya. Tidak ada kuliah dan  urusan kampus yang ia datangi, bahkan ia tidak ingin bertemu dengan teman-temannya. Dipegangi perutnya yang sudah kelaparan dari 2 hari yang lalu. Hanya makan sehari sekali dengan porsi yang sedikit dan permasalahan yang lalu lalang di kepalanya membuat badannya lemas. Tidak ada semangat dan tidak ada niat yang muncul dari dalam diri Seno. Ia berpikir untuk mengakhiri semua ini. Jantungnya berdegup kencang. Ia sudah menetapkan pilihan, disambar jaketnya dan keluar dari kamarnya.

Niatnya tak terbendung lagi. Matanya awas mencari sesuatu. Ada kesempatan yang dapat ditangkapnya. Sengaja ia memilih tempat yang sedikit ramai, ia harap gerak-geriknya tidak akan mudah dilihat. Ia hafal betul dengan alun-alun ini, sudah ia rencanakan bagaimana ia akan kabur. Persiapan sudah tergambar di benaknya, tinggal menunggu menarik pelatuk untuk segera bertindak. Tas hitam milik seorang ibu tampak cukup lengah di mata Seno. Tanpa berpikir panjang, ia langsung saja mengambil dompet yang ada di tas tersebut. Malang, aksinya ketahuan dan ibu tersebut berteriak histeris. Aksi kejar-kejaran terjadi antara Seno dengan orang-orang yang ada di alun-alun.

Suasana pagi itu masih sunyi, belum ada yang terbangun dan melakukan aktivitas. Hanya Yanusa yang sudah menyalakan tv sambil merokok. Ia ingin mencari tahu perkembangan politik yang sedang heboh dibicarakan masyarakat. Namun, pagi itu sedikit berbeda. Matanya awas dan memperhatikan suatu berita yang menarik perhatiannya. Ia ingat nama itu, ia kenal nama itu, dan ia sering menemui muka orang tersebut. Muka yang biasa cerah tampak lebam penuh luka dan darah. Seseorang yang biasa menemani ia makan malam tampak lemas tak berdaya di jalan. Seorang pencopet tewas dihakimi massa di Alun-alun kemarin sore.

{ Read More }


Jumat, 12 September 2014

Kekeringan yang Terendam Politik



Akhir-akhir ini media massa nasional serentak memberitakan mengenai RUU Pilkada, dimana Rancangan Undang-Undang ini nantinya kepala daerah baik kota maupun provinsi, dipilih oleh DPR. Pemilihan kepala daerah yang dilakukan oleh DPR menimbulkan keresahan yang cukup besar di masyarakat. Dikhawatirkan dengan adanya RUU ini akan merenggut jiwa demokrasi, dimana tidak ada lagi peran rakyat dalam memilih pemimpinnya. Sehingga makna demokrasi yang berupa “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat” tidak terealisasi dengan baik. Media massa nasional serentak memantau dan memberitakan RUU Pilkada, yang nantinya akan berpengaruh besar dengan keadaan negara Indonesia
Pemberitaan yang intens dan ketat mengenai politik tersebut berimbas dengan bergesernya pemberitaan-pemberitaan lainnya. Pemberitaan politik sebagai sajian utama mengalihkan perhatian masyarakat dengan pemberitaan penting lainnya, seperti kekeringan yang terjadi di 12 kabupaten di Jawa Tengah.
Dari 24 kabupaten yang terdapat di Jawa Tengah, 12 di antaranya mengalami status darurat bencana dengan adanya kekeringan ini, yang berarti hampir setengah wilayah Jawa Tengah mengalami kekeringan. Kondisi kekeringan di berbagai wilayah tersebut sangat parah dan mendesak membutuhkan bantuan air bersih. Ke 12 kabupaten tersebut adalah kabupaten Rembang, Pemalang, Klaten, Kendal, Kabupaten Semarang, Demak, Kebumen, Kabupaten Magelang, Purworejo, Blora, Wonogiri, dan Grobogan (berita.suaramerdeka.com, 12/9/14). Ke 12 kabupaten tersebut sudah dilaporkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah dan berusaha diatasi dengan penyaluran air ke masing-masing titik kekeringan terparah.
Selain diperlukan air bersih, 12 kabupaten tersebut setidaknya juga membutuhkan bak penampungan air bersih. Dengan adanya bak penampungan air bersih, akan dapat menampung kiriman bantuan air bersih. Karena ketiadaan bak penampungan air, penyaluran air bersih di sejumlah desa terpaksa diberikan dengan menuang air bersih dari tangki langsung ke ember atau wadah lain. Akibatnya banyak air yang terbuang karena luber saat mengisi ember satu ke ember lainnya (Suara Merdeka, 12/9/14). Adanya bak penampungan air bersih nantinya juga akan membantu wilayah-wilayah tersebut untuk menghadapi kekeringan karena adanya cadangan air yang dimiliki di bak penampungan air.
Status darurat bencana kekeringan tersebut merupakan suatu bahaya yang nyata yang dihadapi oleh masyarakat. Banyak yang tidak menyadari bahwa 12 kabupaten itu tidaklah sedikit dan kekeringan merupakan suatu bencana, dimana masyarakat selalu membutuhkan air bersih.
Perhatian masyarakat sedikit teralih dengan kekeringan yang lebih berbahaya yang menyangkut kebutuhan manusia dibandingkan dengan isu politik yang masih berhembus kencang. Ini tak lepas dari peran media yang mengutamakan isu politik berkaitan dengan cakupannya secara nasional dan politik semakin diberi perhatian oleh masyarakat semenjak pemilihan umum Agustus lalu.
Tidak seharusnya kita melupakan dan mengesampingkan akan status kekeringan yang melanda 12 kabupaten di Jawa Tengah saat ini. Justru bahaya yang lebih nyata yang dihadapi oleh masyarakat adalah kekeringan, dan bukanlah tata cara pelaksanaan demokrasi. Malah sebagai negara yang menganut asas demokrasi, dimana prioritas ada di tangan rakyat, namun rakyat malah menderita dan merasa tidak diperhatikan.

{ Read More }


Sabtu, 30 Agustus 2014

Lampu yang Menemani

Kantuk masih menghinggap di mata saya pada malam itu. Kopi hitam toraja menjadi teman sekaligus mengecup bibir, mengharapkan saya tidak tertidur di depan laptop. Kelompok kami, saya adit dan mito sedang menyiapkan sebuah tugas kelompok, yaitu presentasi. Berbeda dengan presentasi yang biasa, kami menyiapkan materi tentang etika jurnalistik, yang berhubungan erat dengan filsafat, namun sumber yang kami gunakan berbahasa inggris, tidak lengkap, dan intinya terlalut berputar-putar. Jujur saja sudah terlalu lama tidak membaca literatur bahasa inggris memberatkan saya untuk membaca materi yang akan menjadi presentasi kami, presentasi bahasa inggris, yang akan dikritisi oleh 2 bule asli jerman yang ada di kelas kami. Dengar-dengar mereka adalah professor. Kami melakukan persiapan yang sedikit ketat untuk presentasi ini untuk menghadapi bule-bule tersebut berkaca dari pengalaman teman kami yang presentasi yang kurang mampu berbahasa inggris dan disikat serta ditertawakan mereka.

Untungnya, di kelompok kami ada adit. Adit adalah seseorang yang sejak masa kecilnya tinggal di Russia dan kembali ke Jogja saat kuliah. Setidaknya, bahasa inggris yang dimiliki adit bisa sedikit memahami materi kami yang sulit tersebut. Apakah adit seorang bule? tidak, ia adalah seorang blasteran, ayahnya bule russia, ibunya chinese. Sehingga adit adalah seseorang bermuka "lokal" lebih ke arah chinese namun rambutnya berwarna merah. Sepintas orang-orang tidak ada yang percaya kalau adit adalah seseorang yang tinggal lama di russia bahkan seorang bule russia. Ditambah ia mahir menggunakan bahasa jawa, orang-orang tidak ada yang mengira kalau ia adalah seorang bule.

Perbedaan budaya sangat besar dialami adit. Indonesia sangat berbeda dengan Russia. Banyak stigma dan penilaian negatif terhadap dia. Di Russia sana, diwajibkan aktif dan bertanya apabila tidak memahami suatu materi. Presentasi di kelas pun juga berbeda, karena ia  terbiasa bergerak kesana kemari dan banyak bicara. Namun di kelas dia dianggap sebagai seorang yang berisik dan annoying, sungguh penilaian masyarakat yang menganggap berbeda adalah sebuah masalah. Bisik-bisik ini lama kelamaan diketahui adit, karena ada yang secara langsung mengutarakan keberatannya kepada dia. Namun adit hanya bisa diam, karena memang dia tidak bisa mengubah dirinya, ia adalah orang yang apa adanya dan tidak bisa berpura-pura.

Waktu menunjukkan pukul 1 pagi saat kami berada di mobil adit, dalam perjalanan mengantarkan mito ke kos nya. Adit bercerita dimana di sini dia mengalami penilaian negatif. Bahkan ia mempertanyakan semua penghargaan dan pujian yang menganggap orang asia terutama Indonesia yang sangat ramah. Dia jujur berkata bahwa ia tidak menemui keramahan dan kebaikan selama di Indonesia. Menurutnya semua media Eropa berkata bohong mengenai keramahan orang Indonesia. Pembicaraan ini menggelitik benak saya. Benarkah orang Indonesia ramah? sejauh yang saya tahu, tidak ada keramahan dan kebaikan bahkan sopan santun di abad ini. Semua orang cuek, egois, dan kurang menghargai sesamanya. Saya setuju dengan pernyataan adit bahwa seluruh media Eropa berbohong akan keramahan orang Indonesia.

Di saat itulah saya berpikir, apakah karena bule, maka orang Indonesia menjadi ramah dengannya? Seluruh media eropa adalah orang-orang bule, yang putih tinggi dan berambut pirang. Kita selalu mendambakan untuk menjadi bule. Kita ingin memiliki kekasih seorang bule. Untuk memperbaiki keturunan katanya. Kita mengagumi dan menghormati bule. Benar bukan? Apakah karena mereka bule, dan melakukan liputan di Indonesia, maka orang Indonesia yang "mengagumi dan menghormati" bule-bule tersebut akan berlaku sangat ramah dan sopan? Bisa jadi. Kita memiliki kebanggan tersendiri saat bule dari luar negeri menginap di rumah kita, atau saudara kita yang menikah dengan bule. Jadi, kita yang menghormati bule sedemikian rupa dan berlaku ramah inikah yang dianggap bule sebagai "keramahan orang Indonesia"? YA!

Apes bagi adit adalah ia seorang bule dengan muka lokal. Sehingga ia tidak mengalami eksklusifitas yang didapatkan bule-bule lainnya, malah ia mendapatkan penilaian negatif karena ia berbeda. Yang saya pertanyakan adalah, apakah pemikiran jaman Kolonial, yang takut dan tunduk pada bule masih ada di jaman sekarang? Sungguh, kejadian kolonial sudah sangat lama terjadi bahkan kita lahir jauh dari tahun-tahun penjajahan negara eropa. Namun tetap saja, kita masih memiliki pemikiran yang mencerminkan dunia kolonial, Takut dan hormat akan bule.

Sekarang, pikir sekali lagi, apakah anda ramah? apakah lingkungan anda ramah? apakah orang Indonesia seramah apa yang bule tulis dan bule perbincangkan?

Yang menyedihkan adalah, orang-orang Russia, yang dikatakan sebagai komunis, masih lebih ramah dari Indonesia. PIKIRKANLAH!
{ Read More }


Menyapa Kembali

Halo semuanya, apa kabar? ya, saya harap semuanya baik-baik saja. Kali ini saya ingin menyapa kembali anda-anda semua, sudah terlalu lama saya vakum dari tulis-menulis blog. Sekedar flashback saya sangat sibuk sekali bulan-bulan kemarin, karena saya memiliki tanggung jawab untuk meng handle tv campus saya. Kegiatan tv campus saya sangat padat, bisa dibilang hampir 24 jam. Kami siaran 7 hari, dan total hari kotor untuk persiapan hampir 2 minggu. Selama masa produksi kami sudah sangat sibuk dan puncaknya saat siaran. Kami tidur pukul 12 malam, bangun pukul 3 pagi, mengeluarkan alat-alat dan menggotong alat yang sangat besar dari lantai 5 ke lantai 1, jalan kira-kira 500 meter, menyeberang ke kampus depan, naik ke lantai 3 dan menaruh alat-alat tersebut. Namun alat-alat tersebut belum dipasang, sehingga kami harus melakukan penyetelan atau setting. Semua setting itu nantinya selesai jam 6 atau 7 pagi. Lalu kami mandi dan siaran pada pukul 8 pagi hingga 2 siang. Setelah siaran, kami makan siang bersama, mencopot semua alat dan membereskannya hingga pukul 4 atau 5 sore. Belum selesai, kami harus rapat evaluasi, yang itu berarti kami "dipanggang" oleh senior dan direktur kami. Setelah selesai evaluasi, kira-kira pukul 8 atau 9 malam, kami mandi lalu makan, untuk yang acaranya belum jadi akan melakukan pengeditan. Lalu alur kegiatan kami dimulai kembali pukul 12 malam, begitu seterusnya selama  hampir 2 minggu. Namun, ya kami kuat karena kami sudah terlatih saat masa produksi yang kegiatannya tidak jauh berbeda. Berat? ya, itulah pekerjaan media. Saya kira yang saya lakukan terlalu berat karena ada beberapa faktor, 1. karena divisi produksi kami tidak melakukan prioritas untuk pembuatan acara dan jadwal produksi serta pengeditan acara menjadi kacau. 2. karena jumlah kami sedikit, hanya 19 orang, berbeda dengan stasiun tv pada umumnya yang melibatkan banyak orang, kami hanya sedikit dan pekerjaan kami hampir rata. Meskipun berat, semuanya terasa menyenangkan, banyak pengalaman baru yang tak terkatakan, saya menemukan keluarga baru dan rumah kedua, yaitu FIAT dan laboratorium audio visual, Terima kasih!
{ Read More }


Minggu, 06 Juli 2014

Sembilan

Sembilan, adalah angka terakhir, angka yang memiliki nilai terbesar. Mengapa bukan sepuluh? karena sepuluh terdiri dari angka satu dan angka nol, merupakan kombinasi angka yang lebih rendah dan dapat dikatakan bahwa sembilan merupakan unsur angka dengan nilai paling tinggi

Terhitung dari sekarang dimana saya menuliskan postingan ini, besok lusa akan menempuh tanggal sembilan. Tanggal sembilan juli dua ribu empat belas. Negara Indonesia akan melakukan suatu kegiatan politik terbesar dan harus ada dalam demokrasi : Pemilu Kepala Negara (Presiden).

Sebelum topik politik menjadi basi, saya akan menuliskan opini saya akan hal yang terjadi akhir-akhir ini. Saya berharap ini akan menjadi jejak, sebelum ada larangan akan menuliskan hal yang berkaitan dengan politik dan pemerintahan

Dari awal tahun 2014, sering saya temui banyak postingan, tautan atau opini seseorang akan politik Indonesia dan berkaitan dengan capres-capres yang maju dalam Pemilu besok lusa. Seiring berjalannya waktu, saya hanya menemui bahwa pembicaraan politik di Internet seakan dikendalikan, masyarakat tidak tahu menahu hanya saling tuding dan menganggap dirinya benar. Banyak fitnah dan kampanye hitam terjadi. Entah mengapa masyarakat Indonesia masih terjebak akan hal tersebut dan mau-maunya menuruti pernyataan-pernyataan yang tidak jelas kebenarannya.

Pemilu tahun ini menghadirkan Prabowo didampingi Hatta Rajasa sebagai kandidat nomor satu. Sedangkan kandidat nomo dua adalah Jokowi dengan Jusuf Kalla. Bisa dikatakan, masing-masing orang tersebut sudah kondang di telinga masyarakat dan mereka dikenali hampir seluruh masyarakat Indonesia. Dari debat capres dan suasana di Internet, saya mendapati bahwa ada antusiasme yang besar dari masyarakat akan politik. Topik berkaitan dengan politik sangat sering terdengar, namun tentu saja, tidak semuanya pintar. Politik masih dikait-kait kan dengan agama. Padahal, agama dana politik adalah hal yang berbeda. Politik berkaitan akan keputusan yang berlaku bagi seluruh masyarakat. Sedangkan agama adalah hal yang bersifat pribadi. Apa anda sudah paham? Namun masih ada elemen masyarakat yang berpedoman dengan agama mayoritas dan menganggap agama lainnya sebagai hal yang buruk, sebagai hal yang harus dihindari, bahkan dimusnahkan. Apa saya mengada-ada? tentu saja tidak, masih ada, bahkan banyak yang menganggap dirinya benar, agama paling benar, agama lain salah, hal itu dibuktikan dengan penyerangan kebaktian agama katolik di rumah warga yang diserang oleh warga yang berbaju putih-putih. Sudah jelas penyerangnya adalah siapa. Mereka yang biasanya turut campur dalam kekerasan atas nama agama. Namun yang menggelikan adalah pernyataan Kapolri yang seakan menyatakan bahwa itu merupakan kesalahan dari penyelenggara ibadah di rumah warga, yang tentu saja warga negara Indonesia itu sendiri. Untuk beribadah saja sudah tidak aman, dan Kapolri malah memberikan statement yang tidak melindungi warga nya sendiri. Shame on you, bastard. Sudah jelas di sila 1 Pancasila adalah Ketuhana yang maha Esa dengan ditangguhkan dengan undang-undang yang menyatakan kebebasan dan keamanan untuk beragama dan beribadah.

Lalu bagaimana dengan Prabowo? Prabowo adalah seseorang yang mendukung Front Pembela Agama tersebut. Mari kita mulai berandai, bagaimana apabila pemerintah ingin memusnahkan atau merusak kelompok masyarakat tertentu? melalui TNI atau POLRI? Terlalu berbahaya dan riskan, serta mencoreng nama pemerintah. Bagaimana bila kita membentuk kelompok penuh kekerasan atas nama agama yang bersumber dari masyarakat, yang mampu menggantikan posisi aparat untuk melakukan kekerasan dan pemerintah seakan "cuci tangan" karena hal tersebut merupakan konflik masyarakat. Menurut saya, dengan kasus Prabowo pada tahun 1998 dan mendukung Front tersebut, maka posisi saya sebagai seseorang dengan agama kristiani akan sangat berbahaya. Riskan dengan penyerangan dan pemusnahan, apalagi seseorang dengan marga chinese. Masih saja ada orang yang tidak mampu berpikir terbuka dengan adanya perbedaan suku agama ras dan adat. Selain konflik SARA, menurut saya dia kurang pantas, banyak hal yang melemahkannya dan akan sulit menuliskannya satu-persatu.

Apa anda mengenal akun twitter triomacan2000? ya, menurut saya ini adalah akun fenomenal yang membahas politik negeri ini. Banyak kampanye hitam berasal dai akun ini dan banyak masyarakat yang percaya dan menganggap postingannya adalah hal yang benar. Lucunya, apabila diurut, triomacan menuliskan bahwa Jokowi adalah presiden boneka, dengan seorang sutradara kampanye bernama Greenberg yang berasal dari Amerika, lalu menyerang dengan menggunakan suku dan agama, dimana jokowi dianggap seseorang yang berketurunan cina dan beragama nasrani. Yang saya pertanyakan adalah, mengapa hal tersebut dipermasalahkan? itu adalah hal pribadi. Keturunan cina? apa yang salah dengan hal tersebut? apa seseorang mampu memilih keluarga mana ia akan dilahirkan? tidak. tentu saja tidak. Apa salah seseorang berketurunan cina? tidak ada yang salah, pemikiran tersebut yang salah. Lalu beredar berita bahwa Jokowi melakukan sholat keliru dan ia sesungguhnya beragama nasrani dan tidak pantas jadi capres. Apa pula yang salah dengan hal ini? Agama adalah hal pribadi, dan mengapa ibadah nya diolok-olok? apakah anda sudah melakukan ibadah dengan sempurna? tentu saja tidak. Lalu berkaitan dengan agama sesungguhnya jokowi yang nasrani lalu tidak pantas jadi presiden? apa pula ini? apakah presiden harus seseorang beragama muslim? Ini hal yang konyol namun sesungguhnya terjadi. Masyarakat mayoritas tidak terima akan hal tersebut dan menganggap agama lain adalah kafir.Entahlah, masyarakat juga belum bisa berpikir terbuka akan keanekaragaman. Apabila Jokowi sesungguhnya beragama nasrani dan ia pindah menjadi muslim, biarkanlah, itu merupakan hal yang ia pertanggungjawabkan dengan Tuhan, karena kita semua bukan Tuhan.
Selanjutnya, tidak puas dengan hal tersebut, Jokowi dituding sebagai seseorang komunis yang berusaha menjadikan pemerintah komunis. Entahlah, sangat terlihat ingin menjatuhkan jokowi dengan fitnah. Saya melihat ini sebagai sebuah fitnah, entahlah kalau menjadi kenyataan. Triomacan menerapkan strategi klasik tapi memiliki andil yang besar. Untuk mempersatukan berbagai macam orang dengan watak dan pikiran yang berbeda, maka cara paling mudah adalah menciptakan atau menghadirkan satu musuh yang merupakan musuh bersama. Kebencian dan rasa ingin mengalahkan bercampur dan menjadi pemersatu kelompok tersebut. Kudeta dilakukan oleh berbagai macam orang yang bahkan pemikirannya berbeda namun dapat dipersatukan karena ada rasa ingin menjatuhkan pemegang politik. Untuk pemberitaan komunis ini, seakan triomacan ingin menghadirkan jokowi sebagai musuh bersama yang harus dilawan dan berharap masyarakat dapat bersatu melawannya. Dan yap, cukup ideal dimana banyak masyarakat yang percaya dan menciptakan kelompok-kelompok yang berusaha menjatuhkan jokowi.


Lalu bagaimana dengan jokowi sendiri? menurut saya, jokowi juga bukan sosok yang pantas untuk menjadi presiden. Meskipun ia menerapkan sistem demokrasi secara ideal dengan metode blusukan, namun yang saya lihat adalah kapasitas jokowi yang belum cukup untuk menjadi presiden. Mengapa saya bisa mengatakan hal tersebut? Jokowi merupakan warga sipil biasa, ia tidak mengetahui detail stabilitas negara, suasana politik, keadaan ekonomi, dan power dari militer. Program yang ia berlakukan juga hanya berkisar dari kartu-kartu entah kartu kesehatan kartu pendidikan dan lain-lain. Jokowi belum pantas, ia masih kurang berpengalaman.Menurut saya pencapres an dirinya merupakan hal yang dipaksakan. Dan hal yang dipaksakan tentu saja kurang baik.


Sudah, sekarang lihatlah diri anda masing-masing termasuk saya sendiri. Saya bukanlah orang yang paham politik. Dan saya yakin anda pun belum. Mari kitas sama-sama belajar dan marilah kita saling terbuka satu sama lain serta menerima apapun keputusan serta pemimpin yang akan memimpin negeri ini. Siapapun presidennya, ia akan menjadi prioritas dan anda harus mematuhinya. Apabila capres jagoan anda tidak berhasil, jangan berkecil hati dan tidak terima, cobalah menerima dan beginilah mufakat harus dihormati, inilah demokrasi.

Ngomong-ngomong soal demokrasi, apakah anda menyadari bahwa kita belum pantas untuk menjadi negara demokrasi? Demokrasi mementingkan suara mayoritas, dan seperti yang kita ketahui bahwa mayoritas masyarakat adalah orang yang buta, tidak terbuka bahkan bodoh. Sanga disayangkan sistem demokrasi adalah sistem yang ideal,namun subyek nya tidak cocok untuk berkontribusi pada sistem. Bukan, saya pun juga tidak mau sistem pemerintahan kita nantinya menjadi otoriter, namun alangkah baiknya masing-masing orang bercermin, berpikir terbuka dan mau menghormati keputusan, perbedaan dan mau memperbaiki dirinya sendiri.

Semoga di tanggal sembilan nanti, keputusan politik akan menjadi keputusan yang tepat untuk kita, untuk Indonesia. Semoga nanti, politik kita akan semakin maju, dimana antusias masyarakat akan politik menjadi besar diimbangi dengan berpikiran saling terbuka dan menghormati lalu memperbaiki diri masing-masing. Amin.
{ Read More }


Minggu, 22 Juni 2014

Akhir semester dua

Hai, selamat malam, apa kabar kalian? Sudah cukup lama blog ini tidak update. Alasan utamanya adalah kesibukan saya sebagai mahasiswa. Ya, bagi saya yang baru saja menyelesaikan semester 2 mungkin sedikit berlebihan, tapi memang inilah yang terjadi, tugas-tugas yang menumpuk dan kegiatan kampus membuat saya tak mencoba menulis postingan di blog ini.

Jangan kan menulis, untuk mencari waktu tidur saja sulit.

Oke, kemarin sudah ada yang menanyakan film yang saya buat dengan UKM saya. Tunggu waktuya, saat ini sedang dalam proses pengeditan. Oh ya, saya juga diberi tugas akhir untuk menciptakan project kreatif kelas Komunikasi Lintas Budaya. Di dalam tugas akhir ini saya menciptakan video singkat yang mengulas mengenai perbedaan pendapat mengenai aborsi, ada yang pro dan kontra serta saya dan kelompok saya melakukan wawancara dengan satu lsm yang pro dengan aborsi.
Namun tentu saja hasilnya kurang begitu bagus untuk saya. Masih bnayak kurang di sana sini. Bahkan yang saya khawatirkan adalah video ini akan cukup membosankan. Maklum saja, dari awal pembuatan, rencana, eksekusi dan proses edit dilakukan oleh saya dan hanya dibantu satu teman saya ditambah kemampuan perencanaa, ekseskusi dan edit yang minim. Skill kami masih lah rendah untuk menciptkan film atau video dokumenter.

Berkaitan dengan akhir semester 2 ini, akan dimulai semester 3 yang baru bagi saya, dengan konsentrasi jurnalisme. Entah siapa saja teman dan dosen yang saya temui serta mata kuliah yang akan saya pelajari saya masih belum mengetahuinya. Saya hanya berharap saya diberi kemampuan untuk menghadapi semester demi semester.

Liburan ini saya isi dengan tidak menggunakan waktu liburan saya dan bergabung dengan jaringan tv campus universitas saya. Sangat berat memang, bekerja dimana tiap orang sedang santai dan memang waktunya untuk santai, tapi saya hanya berharap semoga jerih payah saya nanti akan sepadan dengan apa yang saya peroleh nanti.

Semester 2 ini juga diakhiri dengan indah.berjalan-jalan dan bersantai ria dengan  kawan saya, @arturharuka, @antikabell, @albertusgilang dan @michaiueo menikmati kue terang bulan nutella. Dan saya sudah melampiaskan rasa penasaran saya akan rasa martabak legendaris yang sangat sangat enak itu, ya , saya sudah tenang.

Oh ya sebagai penutup, ada yang bisa membantu / memberi saran untuk memperbaiki sd card (memory card kecil) ? Milik saya rusak, semua file di dalamnya tidak terdeteksi dan tidak bisa dibuka dengan tulisan yang menganjurkan memory untuk diformat. Namun, entah kenapa tidak bisa diformat. Berbagai cara sudah saya lakukan mulai dari menggosokkan penghapus, memakai command prompt, memakai aplikasi bermacam-macam, hingga mencari id product dan mencoba mencari aplikasi yang berkaitan dengan product tersebut. Entahlah, bahkan untuk di format saja memory ini tidak bisa.
Tolong saya, memory memang bisa dibeli kembali, tetapi kenangan yang tertulis didalamnya cukup berharga bagi saya T______T mulai saat ini untuk sementara ponsel saya kurang prima dalam menjalankan tugasnya huhuhu
{ Read More }


Instrumen Langit



Di sisi jalan, sebuah palang berdiri dengan tegak menyorotkan warna merah. Tugasnya sederhana, memerintah kami untuk berhenti atau berjalan. Kami semua memberhentikan kendaraan kami, mempersilakan pengguna kendaraan dari arah berlawanan untuk berjalan. Lampu kelap-kelip kendaraan seakan berusaha mewarnai selimut gelap yang membungkus kota ini. Tidak mau kalah, seluruh bangunan kota ini juga memancarkan cahaya warna-warni, tidak ingin ditelan oleh selimut malam. Semuanya seakan berjalan lambat. Entah karena aku yang tak terburu-buru atau semua pemandanganku hanyalah gelap dengan lampu sesekali. Atau mungkin, karena kau yang menikmati malam ini, semua pemandangan yang kau bagi denganku.

Sengaja tak kupacu sepeda motorku cepat-cepat, karena aku ingat betul kau sedang menikmati malam itu. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutmu dalam perjalanan pulang. Yang kulihat dari cermin motorku hanyalah matamu yang melihat kesana kemari, terlihat penasaran namun bahagia. Senyum kecil dari bibirmu membuatku tenang, kau betul-betul tak ingin diganggu saat perjalanan itu.

“Langit malam ini bagus ya?” katamu memecah keheningan. Aku heran. Kata-katamu membuyarkan konsentrasiku pada jalanan malam itu. Ku alihkan pandangku pada hal yang menjadi perhatianmu. Tak ada yang menarik dari langit yang kulihat saat ini. Semuanya gelap. Sebuah kepolosan berwarna gelap. Hanya ruang kosong gulita, seperti yang ku temui saat memejamkan mata kala terbenam dalam ranjangku. Tak ada bintang dan bulan, tak ada hal yang bisa membuat mu terkejut. Aku terheran, akan ucapanmu. Entahlah apa yang kaupikirkan. Entahlah apa yang menjadi pusat perhatianmu. Aku selalu tak bisa mengetahui jalan pikirmu.

“Bagus?” kata-kata yang hanya bisa kuucapkan saat itu. Tak ada kata-kata yang cukup bisa menggambarkan keherananku saat itu. “Iya, bagus. Coba kau lihat, sayang sekali tidak semua orang menyadarinya” jawabmu dengan kepala mendongak ke atas. Entahlah, aku hanya bisa melirik ke atas sesekali, aku tak mau melepaskan pandang dari jalanan, kau harus pulang, mungkin ini efek demam, harus cepat-cepat pulang dan minum obat, setelah itu tidur. Dokter baru saja bilang kau butuh istirahat cukup. Obat dan istirahat sudah cukup untuk membebaskanmu dari demam.

Kupacu sepeda motorku cepat-cepat. Hari makin malam, tak baik untukmu menikmati angin malam. Dokter menyarankanmu untuk tidak berkendara jauh-jauh untuk sementara. Oh ya, dokter juga berkata untuk menghindari makanan pemicu. Semua demi kesehatanmu. Aku terheran, kau masih mampu tersenyum. Dalam sendu dan sakitmu, kau masih mampu terlihat cerah di mataku. Senyum yang mampu membuat para pria menggila di luar sana. Ya, bukan hanya aku seorang yang mampu terpesona dan mengetahui indah senyummu. Kau berbeda, kau indah. Bagaikan bunga berwarna menyala di padang rumput hijau. Badanmu lemah, namun aku tahu kau tetap kuat. Kau bukanlah seseorang yang ingin terlihat mencari pertolongan. Aku tahu kau adalah seorang yang mencari jalan untuk tetap berdiri kokoh di kedua kakimu sendiri. Namun kali ini berbeda, aku ada, karena aku tahu, kau pantas diberi bantuan. Semua demi kesehatanmu.

Aku tak tinggal diam saat kau berkata sakit. Aku bukanlah orang yang pandai memilah kata untuk membuatmu tetap kuat dalam sakitmu. Aku bukanlah orang yang cerdas yang tahu penawar untuk segala sakitmu. Yang kutahu hanyalah mengetuk pintu rumahmu, memberikan sejumlah doa dan mengharapkan yang terbaik untukmu. Semua kulakukan demi kamu.

Ucapan terimakasihmu dan lekas sembuh dari ku mengakhiri perjalananmu dari rumah sakit. Senyum simpul dan lambaian tanganmu perlahan-lahan sirna kala ku makin menjauh dan pintu rumahmu tertutup. Jalanan semakin sepi, aku pun perlu istirahat untuk kebaikan diriku sendiri. Gelap malam menyelimutiku erat-erat, ia sudah menjadi sahabatku selama ini kala sendiri.

Masih terpikir olehku ucapanmu akan langit saat perjalanan tadi. Kutatap langit untuk mencari tahu apa yang terluput dari pandanganku. Semuanya tetap gelap, namun kilat menari-nari memaksaku untuk cepat pulang. Langit masih tetap sama, dia tetap di tempatnya. Namun pemandangan indah tertangkap olehku. Keseimbangan akan gelap langit malam diiringi titik-titik cahaya dan kilat-kilat seakan menjadi suatu hiburan bagiku. Ia seakan menjadi suatu instrumen. Tak perlu kau memaknainya dengan kata-kata, namun kau tahu hal itu tetap indah. Apakah ini yang kau lihat? Suatu instrumen langit, yang diciptakan oleh Tuhan sendiri? Mengapa kau bisa menyadarinya? Tidak kah kau mau berbagi sedikit pemandangan denganku?

Namun langit tetaplah langit. Keindahannya hanya bisa dinikmati, tanpa bisa kau dekati, tanpa bisa kau petik. Ia sangat jauh, terlalu besar jarak antara manusia dengan langit. Langit selamanya akan menjadi suatu karya keindahan, tanpa kau bisa turut campur di dalamnya.

Apakah kau menyadari, bahwa kau telah menjadi suatu karya keindahan bagiku? Suatu karya yang hanya bisa dinikmati, tanpa bisa kuciptakan. Kau adalah langit bagiku. Sesuatu yang diciptakan dan ditakdirkan indah. Namun langit tetaplah langit. Kau menjadi suatu keajaiban yang tak terjangkau olehku. Andai aku bisa, aku hanya ingin menghapus jarak di antara kita. Entahlah, raga ku seakan tak kuasa untuk menjangkau jarak. Mungkin keindahan hanyalah menjadi seni belaka, ia hanya bisa dinikmati, tanpa perlu dimiliki. Mungkin aku harus sadar, semuanya terlalu jauh bagiku. Mungkin aku harus sadar, langit bukanlah untukku. Mungkin aku harus sadar, semuanya harus berakhir disini, karena langit hanya bisa dipandang dan dinikmati.

Titik air kecil-kecil memukul wajahku. Langit menunjukkan sikapnya. Aku harus menghindari langit.
{ Read More }


Minggu, 23 Maret 2014

Menghapus debu

Hai! lama tak jumpa ya! mohon maaf apabila sudah lama tidak posting di blog ini, yah, karena sebagai mahasiswa saya dituntut mempunyai jam yang ketat penuh kegiatan. Untuk itu postingan kali ini berusaha untuk membersihkan blog ini dari debu karena saya tinggal hampir sebulan.

Bukan mau sombong atau pamer, tapi saya jadi jarang posting karena memang banyak kegiatan dan project kok. Selain memang kewajiban mahasiswa yaitu tugas, saya diberi project untuk ikut lomba Penulisan karya ilmiah (Proyek Kreatif Mahasiswa) yang diadakan DIKTI (Direktorat Perguruan Tinggi) serta saya pun ada project shooting film pertama saya. Untuk film, saya bukanlah seorang aktor ataupun yang berperan besar di film. Saya hanyalah seorang soundman di project ini. Project ini pun adalah project iseng-iseng UKM film kampus saya. Para senior bilang, sudah sepantasnya yang junior dilibatkan dalam proses produksi agar mengetahui asam garam yang dihadapi oleh para sineas. Dan benar saja, untuk mematangkan konsep cerita, mencari tempat, memilih alat dengan biaya seadanya, Membuat property, mencari talent yang tepat, mengusahakan waktu, mencari soundtrack yang tepat, bahkan secara teknis seperti pengambilan gambar dan suara itu adalah hal yang tidak mudah. Oleh karena itu, saya benar-benar terbuka matanya selama proses produksi ini. Untuk ukuran film sederhana dengan biaya kecil saja persiapan dan eksekusi nya dipikirkan secara matang dan benar-benar merepotkan. Bayangkan dengan para sineas yang menciptakan film skala besar? Berapa biaya yang ia butuhkan? Kesulitan seperti apa yang ia hadapi? Bagaimana caranya menciptakan kualitas dalam film nya, baik segi cerita, gambar bahkan suara? Karena banyaknya kesulitan dalam produksi film itulah saya berusaha untuk lebih menghargai karya para sineas. Stop pembajakan, mungkin ini terdengar membosankan, tapi tolong pikirkan sekali lagi bagaimana para sineas membutuhkan waktu yang lama, pemikiran yang matang dan segala tetek-bengek untuk menciptakan karya yang berkualitas. Maka, mulai sekarang hargai karya para sineas ya! Saya percaya semua orang mampu berkarya
{ Read More }


IconIconIconFollow Me on Pinterest

Blogger news

Blogroll

What's Hot