Jam weker masih
menunjukkan angka 2, tetapi Seno masih saja terjaga. Entah sudah berapa kali ia
terbangun dari tidurnya. Tak bisa ia tidur nyenyak malam ini, selalu saja dia
terkejut. Denting piano sayup-sayup terdengar dari radio, yang biasa ia
nyalakan untuk menemani tidurnya. Alunan musik lembut nan syahdu tak bisa
membuatnya tenang, alih-alih mengantarnya ke alam mimpi. Sudah 3 hari tidur
Seno tak nyenyak, tidur hanya sebentar-sebentar seperti bayi, meskipun badannya
sudah amat lelah. Ia tahu pukul 6 nanti sudah harus bangun, sudah terbayang
betul sibuknya hari ini. Tidak ingin ia mengecewakan kawan-kawannya dengan
badan yang lemah dan mata yang loyo, sudah cukup panas telinganya di caci maki
karena hilang konsentrasinya dan tertidur.
Seno
menarik selimutnya, mencoba tertidur. Matanya menatap jarum jam yang bergerak
perlahan. Tik, tik, tik, tik, tik...... bunyi detak jam semakin kencang
menghampiri telinganya. Perlahan perhatiannya teralih, menuju ingatannya
seminggu yang lalu. Baru saja ia pulang ke kampung, karena pesan elektronik
yang didapatnya dari kakaknya. “Cepat pulang, umur ayah tak lama lagi” pesan
yang singkat namun padat makna tersebut membuatnya terburu-buru menembus pagi
dan mencari bus yang berangkat saat subuh. Namun semuanya sudah terlambat, ayah
sudah pulang ke rumah Bapa. Syukur Seno masih sempat bertemu ayahnya pada hari-hari
terakhirnya. Dia mendapat tugas yang berat titipan ayahnya, menjaga ibu dan
kakak perempuan satu-satunya, mengingat ia yang menjadi tulang punggung
keluarganya sekarang. Ayahnya seorang pegawai negeri yang taat, namun sakit
yang parah menghambatnya untuk kembali bekerja. Penghasilan ayahnya sedikit,
dan perlu kerja yang sangat keras untuk dapat membiayai Seno kuliah, sedangkan
ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga. Kakak perempuannya tidak dapat
membantu banyak, gaji dari pegawai swasta sudah banyak habis untuk membayar
cicilan rumah dan membiayai keponakan Seno yang baru menginjak 4 bulan.
Kematian ayahnya sungguh menjadi pukulan yang berat untuk Seno. Uang yang
disimpan keluarganya sudah habis untuk biaya berobat ayah, bahkan mau tak mau
sepeda motor merah kebanggaan Seno yang diberikan ayah saat ulang tahun, harus
digadaikan. Masih ingat betul ucapan ayahnya saat itu “Maafkan ayah nak,
keadaan kita sekarang sangat sulit, uang masih bisa dicari, dan ayah yakin kau
bisa membeli sepeda motor favorit mu sendiri”.
Sedikit
demi sedikit, air mata menetes membasahi kain bantal. Ia tak pernah mengira
harus menghadapi kenyataan pahit seperti ini. Tanpa uang bulanan dari ayahnya,
keadaan akan semakin sulit, ia memikirkan ibunya yang berada di kampung. Namun
yang ia hadapi sendiri adalah kenyataan bahwa untuk makan saja sulit, bahkan
sebelum ayahnya meninggal, dan diperparah dengan menutupnya keran penghasilan
keluarganya. Sudah terbayang di benaknya bagaimana ia akan melanjutkan kuliah.
Akhir bulan ini uang semester ganjil harus lunas dibayar. Tidak ingin ia
diperingatkan oleh pihak Tata Usaha karena ia biasa terlambat membayar biaya
kuliahnya. Biaya kuliah yang cukup besar baginya, menjadi beban tersendiri
dimana untuk membiayai hidupnya sendiri pun sulit.
Tok
tok tok..... Bunyi pintu diketuk. Tak berapa lama pintu terbuka. “Oh kau No,
ada apa nih?” jawab dari sang pemilik kamar. “Hehe, tidak ada apa-apa, boleh
masuk?” Ujar Seno, pelan.
“Masuklah,
ada apa ini?”
“Sedang
apa kau? Nonton tv?”
“Tentu
saja aku sedang menonton tv, lihat saja tv nya menyala, ini pun sudah jadi
kebiasaanku tiap pagi untuk cari berita, lucu sekali kau tanya seperti itu”
“Mana
nya yang lucu?”
“Sen,
kau sudah tahu kebiasaan menonton televisi ku setiap pagi, dan aku tahu kau
sedang basa-basi. Apa yang kau inginkan, hah?”
“Eh,
anu Nus, kau ada uang berlebih tidak? Boleh
ku pinjam?”
“Aih,
kau ini No, sudah kutebak kalau kau pasti ingin pinjam duit. Selalu saja pinjam
duit. Tolonglah No, kau saja belum mengembalikan uangku. Sudah berapa duit yang
kau pinjam hah? Sudah berapa yang kau kembalikan, hah? Kembalikan dulu, baru
aku percaya untuk kasih kau duit-duit lagi”
“Tapi,
Nus....”
“Sudahlah
No, aku sudah bosen selalu menjadi ATM di mata mu, yang selalu saja bisa kau
tarik tunai kapan saja, aku pun juga butuh uang, bukan hanya kau”
Crik...
asap mengebul dari mulut Yanusa, bau tembakau menjadi ciri khas dari kamar
Yanusa.
“Dengar
No, untuk kali ini aku berkata tidak. Aku sudah muak dengan kalimat minta-minta
mu itu. Motorku butuh kupercantik, agar ada lagi cewek yang bisa aku bonceng,
dan biaya untuk ganti velg sekarang naik, maka aku mohon pengertianmu juga lah”
“Ah,
iya, sorry ya Nus”
“Ya”
Perlahan
Seno melangkah dengan lesu keluar dari kamar Yanusa. Tak bisa ia pinjam-pinjam
uang lagi dari teman satu kos nya itu. Pernah Seno meminjam uang darinya dan
uang untuk menggantinya hilang entah kemana, hal itu sempat membuat temannya
itu berang. Pintu kedua ia sambangi. Kali ini kamar milik Beni. Namun hasilnya
sama saja, bahkan ditolak mentah-mentah. Memang, di kos tersebut Beni memiliki
reputasi sebagai orang yang kikir, tetapi terpaksa Seno memohon dengannya.
Seno
hanya terdiam di kamarnya. Hari sudah siang, namun ia tak beranjak dari kasur
busa miliknya. Tidak ada kuliah dan
urusan kampus yang ia datangi, bahkan ia tidak ingin bertemu dengan
teman-temannya. Dipegangi perutnya yang sudah kelaparan dari 2 hari yang lalu.
Hanya makan sehari sekali dengan porsi yang sedikit dan permasalahan yang lalu
lalang di kepalanya membuat badannya lemas. Tidak ada semangat dan tidak ada
niat yang muncul dari dalam diri Seno. Ia berpikir untuk mengakhiri semua ini.
Jantungnya berdegup kencang. Ia sudah menetapkan pilihan, disambar jaketnya dan
keluar dari kamarnya.
Niatnya
tak terbendung lagi. Matanya awas mencari sesuatu. Ada kesempatan yang dapat
ditangkapnya. Sengaja ia memilih tempat yang sedikit ramai, ia harap
gerak-geriknya tidak akan mudah dilihat. Ia hafal betul dengan alun-alun ini,
sudah ia rencanakan bagaimana ia akan kabur. Persiapan sudah tergambar di
benaknya, tinggal menunggu menarik pelatuk untuk segera bertindak. Tas hitam
milik seorang ibu tampak cukup lengah di mata Seno. Tanpa berpikir panjang, ia
langsung saja mengambil dompet yang ada di tas tersebut. Malang, aksinya
ketahuan dan ibu tersebut berteriak histeris. Aksi kejar-kejaran terjadi antara
Seno dengan orang-orang yang ada di alun-alun.
Suasana
pagi itu masih sunyi, belum ada yang terbangun dan melakukan aktivitas. Hanya Yanusa
yang sudah menyalakan tv sambil merokok. Ia ingin mencari tahu perkembangan
politik yang sedang heboh dibicarakan masyarakat. Namun, pagi itu sedikit
berbeda. Matanya awas dan memperhatikan suatu berita yang menarik perhatiannya.
Ia ingat nama itu, ia kenal nama itu, dan ia sering menemui muka orang
tersebut. Muka yang biasa cerah tampak lebam penuh luka dan darah. Seseorang
yang biasa menemani ia makan malam tampak lemas tak berdaya di jalan. Seorang
pencopet tewas dihakimi massa di Alun-alun kemarin sore.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar