Subscribe Via Email (Do Not Edit Here!)








Sabtu, 13 September 2014

Cerita Pendek: Dompet Seno



Jam weker masih menunjukkan angka 2, tetapi Seno masih saja terjaga. Entah sudah berapa kali ia terbangun dari tidurnya. Tak bisa ia tidur nyenyak malam ini, selalu saja dia terkejut. Denting piano sayup-sayup terdengar dari radio, yang biasa ia nyalakan untuk menemani tidurnya. Alunan musik lembut nan syahdu tak bisa membuatnya tenang, alih-alih mengantarnya ke alam mimpi. Sudah 3 hari tidur Seno tak nyenyak, tidur hanya sebentar-sebentar seperti bayi, meskipun badannya sudah amat lelah. Ia tahu pukul 6 nanti sudah harus bangun, sudah terbayang betul sibuknya hari ini. Tidak ingin ia mengecewakan kawan-kawannya dengan badan yang lemah dan mata yang loyo, sudah cukup panas telinganya di caci maki karena hilang konsentrasinya dan tertidur. 

Seno menarik selimutnya, mencoba tertidur. Matanya menatap jarum jam yang bergerak perlahan. Tik, tik, tik, tik, tik...... bunyi detak jam semakin kencang menghampiri telinganya. Perlahan perhatiannya teralih, menuju ingatannya seminggu yang lalu. Baru saja ia pulang ke kampung, karena pesan elektronik yang didapatnya dari kakaknya. “Cepat pulang, umur ayah tak lama lagi” pesan yang singkat namun padat makna tersebut membuatnya terburu-buru menembus pagi dan mencari bus yang berangkat saat subuh. Namun semuanya sudah terlambat, ayah sudah pulang ke rumah Bapa. Syukur Seno masih sempat bertemu ayahnya pada hari-hari terakhirnya. Dia mendapat tugas yang berat titipan ayahnya, menjaga ibu dan kakak perempuan satu-satunya, mengingat ia yang menjadi tulang punggung keluarganya sekarang. Ayahnya seorang pegawai negeri yang taat, namun sakit yang parah menghambatnya untuk kembali bekerja. Penghasilan ayahnya sedikit, dan perlu kerja yang sangat keras untuk dapat membiayai Seno kuliah, sedangkan ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga. Kakak perempuannya tidak dapat membantu banyak, gaji dari pegawai swasta sudah banyak habis untuk membayar cicilan rumah dan membiayai keponakan Seno yang baru menginjak 4 bulan. Kematian ayahnya sungguh menjadi pukulan yang berat untuk Seno. Uang yang disimpan keluarganya sudah habis untuk biaya berobat ayah, bahkan mau tak mau sepeda motor merah kebanggaan Seno yang diberikan ayah saat ulang tahun, harus digadaikan. Masih ingat betul ucapan ayahnya saat itu “Maafkan ayah nak, keadaan kita sekarang sangat sulit, uang masih bisa dicari, dan ayah yakin kau bisa membeli sepeda motor favorit mu sendiri”.

Sedikit demi sedikit, air mata menetes membasahi kain bantal. Ia tak pernah mengira harus menghadapi kenyataan pahit seperti ini. Tanpa uang bulanan dari ayahnya, keadaan akan semakin sulit, ia memikirkan ibunya yang berada di kampung. Namun yang ia hadapi sendiri adalah kenyataan bahwa untuk makan saja sulit, bahkan sebelum ayahnya meninggal, dan diperparah dengan menutupnya keran penghasilan keluarganya. Sudah terbayang di benaknya bagaimana ia akan melanjutkan kuliah. Akhir bulan ini uang semester ganjil harus lunas dibayar. Tidak ingin ia diperingatkan oleh pihak Tata Usaha karena ia biasa terlambat membayar biaya kuliahnya. Biaya kuliah yang cukup besar baginya, menjadi beban tersendiri dimana untuk membiayai hidupnya sendiri pun sulit. 

Tok tok tok..... Bunyi pintu diketuk. Tak berapa lama pintu terbuka. “Oh kau No, ada apa nih?” jawab dari sang pemilik kamar. “Hehe, tidak ada apa-apa, boleh masuk?” Ujar Seno, pelan.
“Masuklah, ada apa ini?”
“Sedang apa kau? Nonton tv?”
“Tentu saja aku sedang menonton tv, lihat saja tv nya menyala, ini pun sudah jadi kebiasaanku tiap pagi untuk cari berita, lucu sekali kau tanya seperti itu”
“Mana nya yang lucu?”
“Sen, kau sudah tahu kebiasaan menonton televisi ku setiap pagi, dan aku tahu kau sedang basa-basi. Apa yang kau inginkan, hah?”
“Eh, anu Nus,  kau ada uang berlebih tidak? Boleh ku pinjam?”
“Aih, kau ini No, sudah kutebak kalau kau pasti ingin pinjam duit. Selalu saja pinjam duit. Tolonglah No, kau saja belum mengembalikan uangku. Sudah berapa duit yang kau pinjam hah? Sudah berapa yang kau kembalikan, hah? Kembalikan dulu, baru aku percaya untuk kasih kau duit-duit lagi”
“Tapi, Nus....”
“Sudahlah No, aku sudah bosen selalu menjadi ATM di mata mu, yang selalu saja bisa kau tarik tunai kapan saja, aku pun juga butuh uang, bukan hanya kau”

Crik... asap mengebul dari mulut Yanusa, bau tembakau menjadi ciri khas dari kamar Yanusa.
“Dengar No, untuk kali ini aku berkata tidak. Aku sudah muak dengan kalimat minta-minta mu itu. Motorku butuh kupercantik, agar ada lagi cewek yang bisa aku bonceng, dan biaya untuk ganti velg sekarang naik, maka aku mohon pengertianmu juga lah”
“Ah, iya, sorry ya Nus”
“Ya”

Perlahan Seno melangkah dengan lesu keluar dari kamar Yanusa. Tak bisa ia pinjam-pinjam uang lagi dari teman satu kos nya itu. Pernah Seno meminjam uang darinya dan uang untuk menggantinya hilang entah kemana, hal itu sempat membuat temannya itu berang. Pintu kedua ia sambangi. Kali ini kamar milik Beni. Namun hasilnya sama saja, bahkan ditolak mentah-mentah. Memang, di kos tersebut Beni memiliki reputasi sebagai orang yang kikir, tetapi terpaksa Seno memohon dengannya.

Seno hanya terdiam di kamarnya. Hari sudah siang, namun ia tak beranjak dari kasur busa miliknya. Tidak ada kuliah dan  urusan kampus yang ia datangi, bahkan ia tidak ingin bertemu dengan teman-temannya. Dipegangi perutnya yang sudah kelaparan dari 2 hari yang lalu. Hanya makan sehari sekali dengan porsi yang sedikit dan permasalahan yang lalu lalang di kepalanya membuat badannya lemas. Tidak ada semangat dan tidak ada niat yang muncul dari dalam diri Seno. Ia berpikir untuk mengakhiri semua ini. Jantungnya berdegup kencang. Ia sudah menetapkan pilihan, disambar jaketnya dan keluar dari kamarnya.

Niatnya tak terbendung lagi. Matanya awas mencari sesuatu. Ada kesempatan yang dapat ditangkapnya. Sengaja ia memilih tempat yang sedikit ramai, ia harap gerak-geriknya tidak akan mudah dilihat. Ia hafal betul dengan alun-alun ini, sudah ia rencanakan bagaimana ia akan kabur. Persiapan sudah tergambar di benaknya, tinggal menunggu menarik pelatuk untuk segera bertindak. Tas hitam milik seorang ibu tampak cukup lengah di mata Seno. Tanpa berpikir panjang, ia langsung saja mengambil dompet yang ada di tas tersebut. Malang, aksinya ketahuan dan ibu tersebut berteriak histeris. Aksi kejar-kejaran terjadi antara Seno dengan orang-orang yang ada di alun-alun.

Suasana pagi itu masih sunyi, belum ada yang terbangun dan melakukan aktivitas. Hanya Yanusa yang sudah menyalakan tv sambil merokok. Ia ingin mencari tahu perkembangan politik yang sedang heboh dibicarakan masyarakat. Namun, pagi itu sedikit berbeda. Matanya awas dan memperhatikan suatu berita yang menarik perhatiannya. Ia ingat nama itu, ia kenal nama itu, dan ia sering menemui muka orang tersebut. Muka yang biasa cerah tampak lebam penuh luka dan darah. Seseorang yang biasa menemani ia makan malam tampak lemas tak berdaya di jalan. Seorang pencopet tewas dihakimi massa di Alun-alun kemarin sore.


Like the Post? Do share with your Friends.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IconIconIconFollow Me on Pinterest

Blogger news

Blogroll

What's Hot