Sembilan, adalah angka terakhir, angka yang memiliki nilai terbesar. Mengapa bukan sepuluh? karena sepuluh terdiri dari angka satu dan angka nol, merupakan kombinasi angka yang lebih rendah dan dapat dikatakan bahwa sembilan merupakan unsur angka dengan nilai paling tinggi
Terhitung dari sekarang dimana saya menuliskan postingan ini, besok lusa akan menempuh tanggal sembilan. Tanggal sembilan juli dua ribu empat belas. Negara Indonesia akan melakukan suatu kegiatan politik terbesar dan harus ada dalam demokrasi : Pemilu Kepala Negara (Presiden).
Sebelum topik politik menjadi basi, saya akan menuliskan opini saya akan hal yang terjadi akhir-akhir ini. Saya berharap ini akan menjadi jejak, sebelum ada larangan akan menuliskan hal yang berkaitan dengan politik dan pemerintahan
Dari awal tahun 2014, sering saya temui banyak postingan, tautan atau opini seseorang akan politik Indonesia dan berkaitan dengan capres-capres yang maju dalam Pemilu besok lusa. Seiring berjalannya waktu, saya hanya menemui bahwa pembicaraan politik di Internet seakan dikendalikan, masyarakat tidak tahu menahu hanya saling tuding dan menganggap dirinya benar. Banyak fitnah dan kampanye hitam terjadi. Entah mengapa masyarakat Indonesia masih terjebak akan hal tersebut dan mau-maunya menuruti pernyataan-pernyataan yang tidak jelas kebenarannya.
Pemilu tahun ini menghadirkan Prabowo didampingi Hatta Rajasa sebagai kandidat nomor satu. Sedangkan kandidat nomo dua adalah Jokowi dengan Jusuf Kalla. Bisa dikatakan, masing-masing orang tersebut sudah kondang di telinga masyarakat dan mereka dikenali hampir seluruh masyarakat Indonesia. Dari debat capres dan suasana di Internet, saya mendapati bahwa ada antusiasme yang besar dari masyarakat akan politik. Topik berkaitan dengan politik sangat sering terdengar, namun tentu saja, tidak semuanya pintar. Politik masih dikait-kait kan dengan agama. Padahal, agama dana politik adalah hal yang berbeda. Politik berkaitan akan keputusan yang berlaku bagi seluruh masyarakat. Sedangkan agama adalah hal yang bersifat pribadi. Apa anda sudah paham? Namun masih ada elemen masyarakat yang berpedoman dengan agama mayoritas dan menganggap agama lainnya sebagai hal yang buruk, sebagai hal yang harus dihindari, bahkan dimusnahkan. Apa saya mengada-ada? tentu saja tidak, masih ada, bahkan banyak yang menganggap dirinya benar, agama paling benar, agama lain salah, hal itu dibuktikan dengan penyerangan kebaktian agama katolik di rumah warga yang diserang oleh warga yang berbaju putih-putih. Sudah jelas penyerangnya adalah siapa. Mereka yang biasanya turut campur dalam kekerasan atas nama agama. Namun yang menggelikan adalah pernyataan Kapolri yang seakan menyatakan bahwa itu merupakan kesalahan dari penyelenggara ibadah di rumah warga, yang tentu saja warga negara Indonesia itu sendiri. Untuk beribadah saja sudah tidak aman, dan Kapolri malah memberikan statement yang tidak melindungi warga nya sendiri. Shame on you, bastard. Sudah jelas di sila 1 Pancasila adalah Ketuhana yang maha Esa dengan ditangguhkan dengan undang-undang yang menyatakan kebebasan dan keamanan untuk beragama dan beribadah.
Lalu bagaimana dengan Prabowo? Prabowo adalah seseorang yang mendukung Front Pembela Agama tersebut. Mari kita mulai berandai, bagaimana apabila pemerintah ingin memusnahkan atau merusak kelompok masyarakat tertentu? melalui TNI atau POLRI? Terlalu berbahaya dan riskan, serta mencoreng nama pemerintah. Bagaimana bila kita membentuk kelompok penuh kekerasan atas nama agama yang bersumber dari masyarakat, yang mampu menggantikan posisi aparat untuk melakukan kekerasan dan pemerintah seakan "cuci tangan" karena hal tersebut merupakan konflik masyarakat. Menurut saya, dengan kasus Prabowo pada tahun 1998 dan mendukung Front tersebut, maka posisi saya sebagai seseorang dengan agama kristiani akan sangat berbahaya. Riskan dengan penyerangan dan pemusnahan, apalagi seseorang dengan marga chinese. Masih saja ada orang yang tidak mampu berpikir terbuka dengan adanya perbedaan suku agama ras dan adat. Selain konflik SARA, menurut saya dia kurang pantas, banyak hal yang melemahkannya dan akan sulit menuliskannya satu-persatu.
Apa anda mengenal akun twitter triomacan2000? ya, menurut saya ini adalah akun fenomenal yang membahas politik negeri ini. Banyak kampanye hitam berasal dai akun ini dan banyak masyarakat yang percaya dan menganggap postingannya adalah hal yang benar. Lucunya, apabila diurut, triomacan menuliskan bahwa Jokowi adalah presiden boneka, dengan seorang sutradara kampanye bernama Greenberg yang berasal dari Amerika, lalu menyerang dengan menggunakan suku dan agama, dimana jokowi dianggap seseorang yang berketurunan cina dan beragama nasrani. Yang saya pertanyakan adalah, mengapa hal tersebut dipermasalahkan? itu adalah hal pribadi. Keturunan cina? apa yang salah dengan hal tersebut? apa seseorang mampu memilih keluarga mana ia akan dilahirkan? tidak. tentu saja tidak. Apa salah seseorang berketurunan cina? tidak ada yang salah, pemikiran tersebut yang salah. Lalu beredar berita bahwa Jokowi melakukan sholat keliru dan ia sesungguhnya beragama nasrani dan tidak pantas jadi capres. Apa pula yang salah dengan hal ini? Agama adalah hal pribadi, dan mengapa ibadah nya diolok-olok? apakah anda sudah melakukan ibadah dengan sempurna? tentu saja tidak. Lalu berkaitan dengan agama sesungguhnya jokowi yang nasrani lalu tidak pantas jadi presiden? apa pula ini? apakah presiden harus seseorang beragama muslim? Ini hal yang konyol namun sesungguhnya terjadi. Masyarakat mayoritas tidak terima akan hal tersebut dan menganggap agama lain adalah kafir.Entahlah, masyarakat juga belum bisa berpikir terbuka akan keanekaragaman. Apabila Jokowi sesungguhnya beragama nasrani dan ia pindah menjadi muslim, biarkanlah, itu merupakan hal yang ia pertanggungjawabkan dengan Tuhan, karena kita semua bukan Tuhan.
Selanjutnya, tidak puas dengan hal tersebut, Jokowi dituding sebagai seseorang komunis yang berusaha menjadikan pemerintah komunis. Entahlah, sangat terlihat ingin menjatuhkan jokowi dengan fitnah. Saya melihat ini sebagai sebuah fitnah, entahlah kalau menjadi kenyataan. Triomacan menerapkan strategi klasik tapi memiliki andil yang besar. Untuk mempersatukan berbagai macam orang dengan watak dan pikiran yang berbeda, maka cara paling mudah adalah menciptakan atau menghadirkan satu musuh yang merupakan musuh bersama. Kebencian dan rasa ingin mengalahkan bercampur dan menjadi pemersatu kelompok tersebut. Kudeta dilakukan oleh berbagai macam orang yang bahkan pemikirannya berbeda namun dapat dipersatukan karena ada rasa ingin menjatuhkan pemegang politik. Untuk pemberitaan komunis ini, seakan triomacan ingin menghadirkan jokowi sebagai musuh bersama yang harus dilawan dan berharap masyarakat dapat bersatu melawannya. Dan yap, cukup ideal dimana banyak masyarakat yang percaya dan menciptakan kelompok-kelompok yang berusaha menjatuhkan jokowi.
Lalu bagaimana dengan jokowi sendiri? menurut saya, jokowi juga bukan sosok yang pantas untuk menjadi presiden. Meskipun ia menerapkan sistem demokrasi secara ideal dengan metode blusukan, namun yang saya lihat adalah kapasitas jokowi yang belum cukup untuk menjadi presiden. Mengapa saya bisa mengatakan hal tersebut? Jokowi merupakan warga sipil biasa, ia tidak mengetahui detail stabilitas negara, suasana politik, keadaan ekonomi, dan power dari militer. Program yang ia berlakukan juga hanya berkisar dari kartu-kartu entah kartu kesehatan kartu pendidikan dan lain-lain. Jokowi belum pantas, ia masih kurang berpengalaman.Menurut saya pencapres an dirinya merupakan hal yang dipaksakan. Dan hal yang dipaksakan tentu saja kurang baik.
Sudah, sekarang lihatlah diri anda masing-masing termasuk saya sendiri. Saya bukanlah orang yang paham politik. Dan saya yakin anda pun belum. Mari kitas sama-sama belajar dan marilah kita saling terbuka satu sama lain serta menerima apapun keputusan serta pemimpin yang akan memimpin negeri ini. Siapapun presidennya, ia akan menjadi prioritas dan anda harus mematuhinya. Apabila capres jagoan anda tidak berhasil, jangan berkecil hati dan tidak terima, cobalah menerima dan beginilah mufakat harus dihormati, inilah demokrasi.
Ngomong-ngomong soal demokrasi, apakah anda menyadari bahwa kita belum pantas untuk menjadi negara demokrasi? Demokrasi mementingkan suara mayoritas, dan seperti yang kita ketahui bahwa mayoritas masyarakat adalah orang yang buta, tidak terbuka bahkan bodoh. Sanga disayangkan sistem demokrasi adalah sistem yang ideal,namun subyek nya tidak cocok untuk berkontribusi pada sistem. Bukan, saya pun juga tidak mau sistem pemerintahan kita nantinya menjadi otoriter, namun alangkah baiknya masing-masing orang bercermin, berpikir terbuka dan mau menghormati keputusan, perbedaan dan mau memperbaiki dirinya sendiri.
Semoga di tanggal sembilan nanti, keputusan politik akan menjadi keputusan yang tepat untuk kita, untuk Indonesia. Semoga nanti, politik kita akan semakin maju, dimana antusias masyarakat akan politik menjadi besar diimbangi dengan berpikiran saling terbuka dan menghormati lalu memperbaiki diri masing-masing. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar