Subscribe Via Email (Do Not Edit Here!)








Minggu, 22 Juni 2014

Instrumen Langit



Di sisi jalan, sebuah palang berdiri dengan tegak menyorotkan warna merah. Tugasnya sederhana, memerintah kami untuk berhenti atau berjalan. Kami semua memberhentikan kendaraan kami, mempersilakan pengguna kendaraan dari arah berlawanan untuk berjalan. Lampu kelap-kelip kendaraan seakan berusaha mewarnai selimut gelap yang membungkus kota ini. Tidak mau kalah, seluruh bangunan kota ini juga memancarkan cahaya warna-warni, tidak ingin ditelan oleh selimut malam. Semuanya seakan berjalan lambat. Entah karena aku yang tak terburu-buru atau semua pemandanganku hanyalah gelap dengan lampu sesekali. Atau mungkin, karena kau yang menikmati malam ini, semua pemandangan yang kau bagi denganku.

Sengaja tak kupacu sepeda motorku cepat-cepat, karena aku ingat betul kau sedang menikmati malam itu. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutmu dalam perjalanan pulang. Yang kulihat dari cermin motorku hanyalah matamu yang melihat kesana kemari, terlihat penasaran namun bahagia. Senyum kecil dari bibirmu membuatku tenang, kau betul-betul tak ingin diganggu saat perjalanan itu.

“Langit malam ini bagus ya?” katamu memecah keheningan. Aku heran. Kata-katamu membuyarkan konsentrasiku pada jalanan malam itu. Ku alihkan pandangku pada hal yang menjadi perhatianmu. Tak ada yang menarik dari langit yang kulihat saat ini. Semuanya gelap. Sebuah kepolosan berwarna gelap. Hanya ruang kosong gulita, seperti yang ku temui saat memejamkan mata kala terbenam dalam ranjangku. Tak ada bintang dan bulan, tak ada hal yang bisa membuat mu terkejut. Aku terheran, akan ucapanmu. Entahlah apa yang kaupikirkan. Entahlah apa yang menjadi pusat perhatianmu. Aku selalu tak bisa mengetahui jalan pikirmu.

“Bagus?” kata-kata yang hanya bisa kuucapkan saat itu. Tak ada kata-kata yang cukup bisa menggambarkan keherananku saat itu. “Iya, bagus. Coba kau lihat, sayang sekali tidak semua orang menyadarinya” jawabmu dengan kepala mendongak ke atas. Entahlah, aku hanya bisa melirik ke atas sesekali, aku tak mau melepaskan pandang dari jalanan, kau harus pulang, mungkin ini efek demam, harus cepat-cepat pulang dan minum obat, setelah itu tidur. Dokter baru saja bilang kau butuh istirahat cukup. Obat dan istirahat sudah cukup untuk membebaskanmu dari demam.

Kupacu sepeda motorku cepat-cepat. Hari makin malam, tak baik untukmu menikmati angin malam. Dokter menyarankanmu untuk tidak berkendara jauh-jauh untuk sementara. Oh ya, dokter juga berkata untuk menghindari makanan pemicu. Semua demi kesehatanmu. Aku terheran, kau masih mampu tersenyum. Dalam sendu dan sakitmu, kau masih mampu terlihat cerah di mataku. Senyum yang mampu membuat para pria menggila di luar sana. Ya, bukan hanya aku seorang yang mampu terpesona dan mengetahui indah senyummu. Kau berbeda, kau indah. Bagaikan bunga berwarna menyala di padang rumput hijau. Badanmu lemah, namun aku tahu kau tetap kuat. Kau bukanlah seseorang yang ingin terlihat mencari pertolongan. Aku tahu kau adalah seorang yang mencari jalan untuk tetap berdiri kokoh di kedua kakimu sendiri. Namun kali ini berbeda, aku ada, karena aku tahu, kau pantas diberi bantuan. Semua demi kesehatanmu.

Aku tak tinggal diam saat kau berkata sakit. Aku bukanlah orang yang pandai memilah kata untuk membuatmu tetap kuat dalam sakitmu. Aku bukanlah orang yang cerdas yang tahu penawar untuk segala sakitmu. Yang kutahu hanyalah mengetuk pintu rumahmu, memberikan sejumlah doa dan mengharapkan yang terbaik untukmu. Semua kulakukan demi kamu.

Ucapan terimakasihmu dan lekas sembuh dari ku mengakhiri perjalananmu dari rumah sakit. Senyum simpul dan lambaian tanganmu perlahan-lahan sirna kala ku makin menjauh dan pintu rumahmu tertutup. Jalanan semakin sepi, aku pun perlu istirahat untuk kebaikan diriku sendiri. Gelap malam menyelimutiku erat-erat, ia sudah menjadi sahabatku selama ini kala sendiri.

Masih terpikir olehku ucapanmu akan langit saat perjalanan tadi. Kutatap langit untuk mencari tahu apa yang terluput dari pandanganku. Semuanya tetap gelap, namun kilat menari-nari memaksaku untuk cepat pulang. Langit masih tetap sama, dia tetap di tempatnya. Namun pemandangan indah tertangkap olehku. Keseimbangan akan gelap langit malam diiringi titik-titik cahaya dan kilat-kilat seakan menjadi suatu hiburan bagiku. Ia seakan menjadi suatu instrumen. Tak perlu kau memaknainya dengan kata-kata, namun kau tahu hal itu tetap indah. Apakah ini yang kau lihat? Suatu instrumen langit, yang diciptakan oleh Tuhan sendiri? Mengapa kau bisa menyadarinya? Tidak kah kau mau berbagi sedikit pemandangan denganku?

Namun langit tetaplah langit. Keindahannya hanya bisa dinikmati, tanpa bisa kau dekati, tanpa bisa kau petik. Ia sangat jauh, terlalu besar jarak antara manusia dengan langit. Langit selamanya akan menjadi suatu karya keindahan, tanpa kau bisa turut campur di dalamnya.

Apakah kau menyadari, bahwa kau telah menjadi suatu karya keindahan bagiku? Suatu karya yang hanya bisa dinikmati, tanpa bisa kuciptakan. Kau adalah langit bagiku. Sesuatu yang diciptakan dan ditakdirkan indah. Namun langit tetaplah langit. Kau menjadi suatu keajaiban yang tak terjangkau olehku. Andai aku bisa, aku hanya ingin menghapus jarak di antara kita. Entahlah, raga ku seakan tak kuasa untuk menjangkau jarak. Mungkin keindahan hanyalah menjadi seni belaka, ia hanya bisa dinikmati, tanpa perlu dimiliki. Mungkin aku harus sadar, semuanya terlalu jauh bagiku. Mungkin aku harus sadar, langit bukanlah untukku. Mungkin aku harus sadar, semuanya harus berakhir disini, karena langit hanya bisa dipandang dan dinikmati.

Titik air kecil-kecil memukul wajahku. Langit menunjukkan sikapnya. Aku harus menghindari langit.

Like the Post? Do share with your Friends.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IconIconIconFollow Me on Pinterest

Blogger news

Blogroll

What's Hot