Di
sisi jalan, sebuah palang berdiri dengan tegak menyorotkan warna merah. Tugasnya
sederhana, memerintah kami untuk berhenti atau berjalan. Kami semua
memberhentikan kendaraan kami, mempersilakan pengguna kendaraan dari arah
berlawanan untuk berjalan. Lampu kelap-kelip kendaraan seakan berusaha mewarnai
selimut gelap yang membungkus kota ini. Tidak mau kalah, seluruh bangunan kota
ini juga memancarkan cahaya warna-warni, tidak ingin ditelan oleh selimut
malam. Semuanya seakan berjalan lambat. Entah karena aku yang tak terburu-buru
atau semua pemandanganku hanyalah gelap dengan lampu sesekali. Atau mungkin,
karena kau yang menikmati malam ini, semua pemandangan yang kau bagi denganku.
Sengaja tak kupacu sepeda motorku cepat-cepat,
karena aku ingat betul kau sedang menikmati malam itu. Tak ada sepatah kata pun
yang keluar dari mulutmu dalam perjalanan pulang. Yang kulihat dari cermin
motorku hanyalah matamu yang melihat kesana kemari, terlihat penasaran namun
bahagia. Senyum kecil dari bibirmu membuatku tenang, kau betul-betul tak ingin
diganggu saat perjalanan itu.
“Langit
malam ini bagus ya?” katamu memecah keheningan. Aku heran. Kata-katamu
membuyarkan konsentrasiku pada jalanan malam itu. Ku alihkan pandangku pada hal
yang menjadi perhatianmu. Tak ada yang menarik dari langit yang kulihat saat
ini. Semuanya gelap. Sebuah kepolosan berwarna gelap. Hanya ruang kosong
gulita, seperti yang ku temui saat memejamkan mata kala terbenam dalam
ranjangku. Tak ada bintang dan bulan, tak ada hal yang bisa membuat mu
terkejut. Aku terheran, akan ucapanmu. Entahlah apa yang kaupikirkan. Entahlah
apa yang menjadi pusat perhatianmu. Aku selalu tak bisa mengetahui jalan
pikirmu.
“Bagus?”
kata-kata yang hanya bisa kuucapkan saat itu. Tak ada kata-kata yang cukup bisa
menggambarkan keherananku saat itu. “Iya, bagus. Coba kau lihat, sayang sekali
tidak semua orang menyadarinya” jawabmu dengan kepala mendongak ke atas.
Entahlah, aku hanya bisa melirik ke atas sesekali, aku tak mau melepaskan
pandang dari jalanan, kau harus pulang, mungkin ini efek demam, harus
cepat-cepat pulang dan minum obat, setelah itu tidur. Dokter baru saja bilang
kau butuh istirahat cukup. Obat dan istirahat sudah cukup untuk membebaskanmu
dari demam.
Kupacu
sepeda motorku cepat-cepat. Hari makin malam, tak baik untukmu menikmati angin
malam. Dokter menyarankanmu untuk tidak berkendara jauh-jauh untuk sementara.
Oh ya, dokter juga berkata untuk menghindari makanan pemicu. Semua demi
kesehatanmu. Aku terheran, kau masih mampu tersenyum. Dalam sendu dan sakitmu,
kau masih mampu terlihat cerah di mataku. Senyum yang mampu membuat para pria menggila
di luar sana. Ya, bukan hanya aku seorang yang mampu terpesona dan mengetahui
indah senyummu. Kau berbeda, kau indah. Bagaikan bunga berwarna menyala di
padang rumput hijau. Badanmu lemah, namun aku tahu kau tetap kuat. Kau bukanlah
seseorang yang ingin terlihat mencari pertolongan. Aku tahu kau adalah seorang
yang mencari jalan untuk tetap berdiri kokoh di kedua kakimu sendiri. Namun
kali ini berbeda, aku ada, karena aku tahu, kau pantas diberi bantuan. Semua
demi kesehatanmu.
Aku
tak tinggal diam saat kau berkata sakit. Aku bukanlah orang yang pandai memilah
kata untuk membuatmu tetap kuat dalam sakitmu. Aku bukanlah orang yang cerdas
yang tahu penawar untuk segala sakitmu. Yang kutahu hanyalah mengetuk pintu
rumahmu, memberikan sejumlah doa dan mengharapkan yang terbaik untukmu. Semua
kulakukan demi kamu.
Ucapan
terimakasihmu dan lekas sembuh dari ku mengakhiri perjalananmu dari rumah
sakit. Senyum simpul dan lambaian tanganmu perlahan-lahan sirna kala ku makin
menjauh dan pintu rumahmu tertutup. Jalanan semakin sepi, aku pun perlu
istirahat untuk kebaikan diriku sendiri. Gelap malam menyelimutiku erat-erat,
ia sudah menjadi sahabatku selama ini kala sendiri.
Masih
terpikir olehku ucapanmu akan langit saat perjalanan tadi. Kutatap langit untuk
mencari tahu apa yang terluput dari pandanganku. Semuanya tetap gelap, namun
kilat menari-nari memaksaku untuk cepat pulang. Langit masih tetap sama, dia
tetap di tempatnya. Namun pemandangan indah tertangkap olehku. Keseimbangan
akan gelap langit malam diiringi titik-titik cahaya dan kilat-kilat seakan
menjadi suatu hiburan bagiku. Ia seakan menjadi suatu instrumen. Tak perlu kau
memaknainya dengan kata-kata, namun kau tahu hal itu tetap indah. Apakah ini
yang kau lihat? Suatu instrumen langit, yang diciptakan oleh Tuhan sendiri?
Mengapa kau bisa menyadarinya? Tidak kah kau mau berbagi sedikit pemandangan
denganku?
Namun
langit tetaplah langit. Keindahannya hanya bisa dinikmati, tanpa bisa kau
dekati, tanpa bisa kau petik. Ia sangat jauh, terlalu besar jarak antara
manusia dengan langit. Langit selamanya akan menjadi suatu karya keindahan,
tanpa kau bisa turut campur di dalamnya.
Apakah
kau menyadari, bahwa kau telah menjadi suatu karya keindahan bagiku? Suatu
karya yang hanya bisa dinikmati, tanpa bisa kuciptakan. Kau adalah langit
bagiku. Sesuatu yang diciptakan dan ditakdirkan indah. Namun langit tetaplah
langit. Kau menjadi suatu keajaiban yang tak terjangkau olehku. Andai aku bisa,
aku hanya ingin menghapus jarak di antara kita. Entahlah, raga ku seakan tak
kuasa untuk menjangkau jarak. Mungkin keindahan hanyalah menjadi seni belaka,
ia hanya bisa dinikmati, tanpa perlu dimiliki. Mungkin aku harus sadar,
semuanya terlalu jauh bagiku. Mungkin aku harus sadar, langit bukanlah untukku.
Mungkin aku harus sadar, semuanya harus berakhir disini, karena langit hanya
bisa dipandang dan dinikmati.
Titik
air kecil-kecil memukul wajahku. Langit menunjukkan sikapnya. Aku harus
menghindari langit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar