Langit yang kelam, diringi
kilatan petir tanpa suara menemani saya malam ini. Maksud saya, pagi ini. Di
ujung malam menuju pagi, saya dan kawan-kawan saya masih harus berpacu dengan
waktu hanya untuk sekedar mengerjakan paper dan menyiapkan presentasi. Jadwal
kami yang sibuk dan perbedaan jadwal di antara kami, memaksa untuk bekerja
keras tanpa memikirkan waktu. Hal yang lumrah untuk seorang mahasiswa dan
mahasiswi untuk mengerjakan tugas kuliahnya hingga awal pagi. Rasa-rasanya, 24
jam bukanlah sebuah batasan yang mengekang dan memaksa kami untuk mengatur
aktivitas. Memang, dunia mahasiswa adalah dunia yang unik dimana waktu tak lagi
dipandang dan 24 jam tidaklah cukup untuk beraktivitas dan tidur. Semua
semata-mata untuk mengerjakan tuntutan kami sebagai mahasiswa dan mahasiswi, di
hadapan dosen.
Kami semua sudah merasa lelah.
Kantuk sudah terasa di pelupuk mata. Perut meraung-raung minta diisi. Aktivitas
pikiran yang cukup menguras tenaga harus diimbangi dengan asupan gizi yang
seimbang, dan porsi yang lebih, saya rasa. Saya lebih membayangkan diri saya
sudah berada di kamar, pelan-pelan ditelan kasur empuk dan mengetuk gerbang
mimpi untuk kembali berpetualang. Namun, yah, dosen kami bukanlah seseorang yang
tak tanggung-tanggung untuk memberi tugas. Inilah kami, menghadapi batas
manusia dari diri sendiri untuk mengerjakan tugas yang tenggat waktunya siang
ini.
Tempat yang kami pilih untuk
mengerjakan tugas pun haruslah tempat yang tepat. Selalu terbuka 24 jam 7 hari.
Mempunyai koneksi internet yang memadai. Dan, kalau bisa, murah. Namanya juga
mahasiswa. Tapi untuk urusan yang terakhir kami masih bisa berkompromi. Kami
masih bisa menyesuaikan dengan hanya cukup minum minuman yang ada rasa-rasanya .
Jadilah kami terduduk dan mengerjakan tugas itu di restoran fast food
MCDonalds.
Tempat itu masih riuh ramai
meskipun waktu sudah menunjukkan tengah malam. Tak ada yang beranjak dari
kursinya. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang mengerjakan tugas
seperti kami. Tapi ada juga manusia-manusia yang hanya menghabiskan waktu untuk
berbincang, nongkrong, main kartu, bahkan tenggelam dalam ponselnya
masing-masing. Entahlah, mungkin saya terasa kolot kalau mengucapkan ini, tapi
saya iri dengan mereka yang masih punya waktu senggang dalam 24 jam. Saya
haruslah mengatur sedemikian rupa agar bisa beristirahat dengan tenang. Namun
mereka menyia-nyiakannya. Untuk sesekali bolehlah, tapi untuk menghabiskan
waktu dan menggunakan uang hanya untuk hal semacam ini? Tolonglah, masih banyak
potensi yang bisa digali daripada hanya tenggelam dalam ponsel masing-masing
meskipun datang beramai-ramai bersama teman. Hanya untuk kumpul. Namun batin
mereka bukan di tempat itu.
Akhirnya pekerjaan kami tuntas
sudah. Kevin dan Vani menyelesaikan tugasnya dengan baik. Aldi mengerjakan dan
harus begadang untuk mengerjakan tugas yang tenggat waktunya besok pagi jam
tujuh. Arthur, otak dari semua pekerjaan kami, bertanggung jawab untuk mengecek
lagi di kos dan menyunting serta memperbaiki apabila ada salah-salah tulis
dalam pekerjaan kami.
“Temani
aku ya, ke kimia farma”
Arthur menepuk pundak saya. Saya tahu
maksud dari hal itu. Obat Arthur habis. Penyakitnya bukanlah penyakit biasa
yang diderita orang. Penyakit langka. Bahkan obat nya adalah obat keras, yang
tak sembarang orang sebenarnya boleh membeli obat tersebut, dan yang pasti,
mahal.
Sejauh yang saya tahu, penyakit Arthur adalah penyempitan saraf di Otak bagian belakang. Untuk sekadar dibayangkan, penyakit ini bisa memberi batasan fisik kepada Arthur. Salah-salah, apabila dia terlalu lelah, dia bisa saja pingsan dalam keadaan epilepsi. Kejadian yang pernah dialami Arthur waktu dulu, sedang berjalan tiba-tiba dia tersungkur dan kejang. Saya dan kawan saya cukup khawatir mengetahui hal ini. Kami takut Arthur terlalu lelah dan tumbang di saat dan di tempat yang tidak tepat. Oh ya, obat nya adalah obat keras yang efek samping nya, apabila sering dikonsumsi akan berakibat pada kerja hati. Yang mengerikan adalah Arthur harus meminum obat ini 3 kali sehari. Setelah makan. Apabila dia bolong minum obat sekali saja, maka dia harus mengulang obat ini untuk jangka 3 tahun ke depan. Sangat mengerikan.
Saat di MCDonalds, saya dan
Arthur sengaja tidak membeli makan dan minum. Tidak ada uang untuk sekedar
membeli es krim. Setelah bayar parkir, uang yang tersisa di dompet saya adalah
4 ribu rupiah. Tanggal tua adalah musuh para mahasiswa. Arthur pun demikian,
tak ada uang untuk membeli minum. Tahu kawannya kehausan, Aldi membelikan saya
dan Arthur minum cola ukuran besar, ya ada inisiatif dari saya untuk memberi
pengertian pada Aldi bahwa saya dan Arthur butuh minum, untuk urusan uangnya,
nanti saya ganti. Saya kasihan melihat Arthur yang dia mengaku pada senin
kemarin dia tidak tidur sama sekali, lalu kembali tidak tidur untuk mengerjakan
tugas bersama saya hingga pagi sampai-sampai dia melewatkan kuliah sesi
paginya. Menurut saya, dia terlalu lelah. Cola ukuran besar pastilah bisa
menjadi apresiasi hasil kerja kerasnya, gratis. Untuk urusan cola arthur, saya
yang bayar kali ini.
Singkat cerita, minuman sudah ada di hadapan kami bertiga. Kawan-kawan saya sudah membeli makan dan pesanan mereka sendiri. Tapi Arthur seakan tak mau. Dia melihat gelas itu dengan sedikit menerawang. Ingatlah saya dengan perkataannya. Setelah divonis penyakit penyempitan saraf tersebut, dia tak pernah lagi minum cola. Entah pantang atau tidak saya lupa. Yang pasti dia sudah lama sekali tidak minum cola. Melihat kawannya sudah membelikannya, dia pun minum cola tersebut. Hanya untuk membalas kebaikannya. Akhirnya saya meminta Arthur untuk minum milo nya Vani begitu ingat dengan penyakitnya.
Langit kala itu masih gelap. Mentari bersembunyi dalam kilatan-kilatan petir. Tolong jangan hujan dahulu, saya dan Arthur belum beli obat. Belum sampai rumah. Tolong tunda hujannya, Ya Tuhan. Dan benar saja, saya dan Arthur masih kering hingga sampai di apotek.
“Depapon 500 gram”
Arthur memesan obat di kasir. Ada lagu tembang lawas dari radio penjaga untuk menemaninya berjaga. Entah lagu apa, saya tahu itu tembang lawas. Mungkin lagunya koes ploes. Isinya tentang bersyukur dan tetap bahagia. Saya lupa lagunya. Namun yang saya ingat pasti, adalah saat Arthur berkata
“Ya
sudah begini ini, disyukuri saja, harus tetap bahagia”
Hati saya kala itu luluh. Saya
tak mampu berkata-kata. Bahkan untuk sekedar berpikir. Saya apresiasi ucapan
kuat nya dengan jempol dan senyum. Namun pikiran saya berat, hati saya
terguncang. Mengapa teman saya harus seperti ini. Seseorang yang menjadi orang
utama dalam pengerjaan tugas-tugas kami, orang yang sering berusaha keras,
orang yang kemauan belajar nya tinggi, harus merasakan seperti ini. Harus
memiliki batas. Mengapa orang-orang disana, yang tak memiliki penghalang dan
tembok, tak memiliki penyakit, masih memiliki waktu, mereka malah
menyia-nyiakan itu semua. Teman saya ini sadar, tembok yang ia hadapi itu
sangat besar. Namun ia tetap tersenyum dan menaiki tangga untuk lolos dari
tembok tersebut. Ia sadar, ia tidak akan mampu menghancurkan tembok
penghalangnya. Bahkan ia sadar, ada kalanya ia akan lelah dan terjatuh karena
terlalu tinggi tangga yang harus didaki. Tapi ia tetap melakukan itu semua.
Sungguh, hati saya luluh.
Kami membeli obat pukul 1 pagi dan kembali ke kos an masing-masing. Dalam hati saya tergerak untuk menulis dan memposting tulisan ini. Saya ingin berjanji, untuk menemani dan menjadi partner, teman sekaligus sahabat yang baik untuk Arthur. Saya akan melakukannya dalam diam. Kasihan sekali apabila dia harus mendaki tembok itu sendirian. Saya akan berusaha tetap ada untuknya, hingga.......... dia sadar akan batasnya.
PS : Tulisan ini diposting pukul 2 pagi setelah pulang dari apotek. Dan saya sadar harus bangun pukul 6 karena ada kuliah sesi pagi. Namun saya benar-benar tergerak untuk menulis ini.
touching story :')
BalasHapussemoga temennya selalu dilindungi oleh-Nya & jangan biarin sampe kecapean :'D
hahaha klo boleh jujur malah kita kmaren dinihari hunting foto dan gak kliatan kok klo dia sakit. He was strong guy
Hapus