Subscribe Via Email (Do Not Edit Here!)








Sabtu, 30 Agustus 2014

Lampu yang Menemani

Kantuk masih menghinggap di mata saya pada malam itu. Kopi hitam toraja menjadi teman sekaligus mengecup bibir, mengharapkan saya tidak tertidur di depan laptop. Kelompok kami, saya adit dan mito sedang menyiapkan sebuah tugas kelompok, yaitu presentasi. Berbeda dengan presentasi yang biasa, kami menyiapkan materi tentang etika jurnalistik, yang berhubungan erat dengan filsafat, namun sumber yang kami gunakan berbahasa inggris, tidak lengkap, dan intinya terlalut berputar-putar. Jujur saja sudah terlalu lama tidak membaca literatur bahasa inggris memberatkan saya untuk membaca materi yang akan menjadi presentasi kami, presentasi bahasa inggris, yang akan dikritisi oleh 2 bule asli jerman yang ada di kelas kami. Dengar-dengar mereka adalah professor. Kami melakukan persiapan yang sedikit ketat untuk presentasi ini untuk menghadapi bule-bule tersebut berkaca dari pengalaman teman kami yang presentasi yang kurang mampu berbahasa inggris dan disikat serta ditertawakan mereka.

Untungnya, di kelompok kami ada adit. Adit adalah seseorang yang sejak masa kecilnya tinggal di Russia dan kembali ke Jogja saat kuliah. Setidaknya, bahasa inggris yang dimiliki adit bisa sedikit memahami materi kami yang sulit tersebut. Apakah adit seorang bule? tidak, ia adalah seorang blasteran, ayahnya bule russia, ibunya chinese. Sehingga adit adalah seseorang bermuka "lokal" lebih ke arah chinese namun rambutnya berwarna merah. Sepintas orang-orang tidak ada yang percaya kalau adit adalah seseorang yang tinggal lama di russia bahkan seorang bule russia. Ditambah ia mahir menggunakan bahasa jawa, orang-orang tidak ada yang mengira kalau ia adalah seorang bule.

Perbedaan budaya sangat besar dialami adit. Indonesia sangat berbeda dengan Russia. Banyak stigma dan penilaian negatif terhadap dia. Di Russia sana, diwajibkan aktif dan bertanya apabila tidak memahami suatu materi. Presentasi di kelas pun juga berbeda, karena ia  terbiasa bergerak kesana kemari dan banyak bicara. Namun di kelas dia dianggap sebagai seorang yang berisik dan annoying, sungguh penilaian masyarakat yang menganggap berbeda adalah sebuah masalah. Bisik-bisik ini lama kelamaan diketahui adit, karena ada yang secara langsung mengutarakan keberatannya kepada dia. Namun adit hanya bisa diam, karena memang dia tidak bisa mengubah dirinya, ia adalah orang yang apa adanya dan tidak bisa berpura-pura.

Waktu menunjukkan pukul 1 pagi saat kami berada di mobil adit, dalam perjalanan mengantarkan mito ke kos nya. Adit bercerita dimana di sini dia mengalami penilaian negatif. Bahkan ia mempertanyakan semua penghargaan dan pujian yang menganggap orang asia terutama Indonesia yang sangat ramah. Dia jujur berkata bahwa ia tidak menemui keramahan dan kebaikan selama di Indonesia. Menurutnya semua media Eropa berkata bohong mengenai keramahan orang Indonesia. Pembicaraan ini menggelitik benak saya. Benarkah orang Indonesia ramah? sejauh yang saya tahu, tidak ada keramahan dan kebaikan bahkan sopan santun di abad ini. Semua orang cuek, egois, dan kurang menghargai sesamanya. Saya setuju dengan pernyataan adit bahwa seluruh media Eropa berbohong akan keramahan orang Indonesia.

Di saat itulah saya berpikir, apakah karena bule, maka orang Indonesia menjadi ramah dengannya? Seluruh media eropa adalah orang-orang bule, yang putih tinggi dan berambut pirang. Kita selalu mendambakan untuk menjadi bule. Kita ingin memiliki kekasih seorang bule. Untuk memperbaiki keturunan katanya. Kita mengagumi dan menghormati bule. Benar bukan? Apakah karena mereka bule, dan melakukan liputan di Indonesia, maka orang Indonesia yang "mengagumi dan menghormati" bule-bule tersebut akan berlaku sangat ramah dan sopan? Bisa jadi. Kita memiliki kebanggan tersendiri saat bule dari luar negeri menginap di rumah kita, atau saudara kita yang menikah dengan bule. Jadi, kita yang menghormati bule sedemikian rupa dan berlaku ramah inikah yang dianggap bule sebagai "keramahan orang Indonesia"? YA!

Apes bagi adit adalah ia seorang bule dengan muka lokal. Sehingga ia tidak mengalami eksklusifitas yang didapatkan bule-bule lainnya, malah ia mendapatkan penilaian negatif karena ia berbeda. Yang saya pertanyakan adalah, apakah pemikiran jaman Kolonial, yang takut dan tunduk pada bule masih ada di jaman sekarang? Sungguh, kejadian kolonial sudah sangat lama terjadi bahkan kita lahir jauh dari tahun-tahun penjajahan negara eropa. Namun tetap saja, kita masih memiliki pemikiran yang mencerminkan dunia kolonial, Takut dan hormat akan bule.

Sekarang, pikir sekali lagi, apakah anda ramah? apakah lingkungan anda ramah? apakah orang Indonesia seramah apa yang bule tulis dan bule perbincangkan?

Yang menyedihkan adalah, orang-orang Russia, yang dikatakan sebagai komunis, masih lebih ramah dari Indonesia. PIKIRKANLAH!
{ Read More }


Menyapa Kembali

Halo semuanya, apa kabar? ya, saya harap semuanya baik-baik saja. Kali ini saya ingin menyapa kembali anda-anda semua, sudah terlalu lama saya vakum dari tulis-menulis blog. Sekedar flashback saya sangat sibuk sekali bulan-bulan kemarin, karena saya memiliki tanggung jawab untuk meng handle tv campus saya. Kegiatan tv campus saya sangat padat, bisa dibilang hampir 24 jam. Kami siaran 7 hari, dan total hari kotor untuk persiapan hampir 2 minggu. Selama masa produksi kami sudah sangat sibuk dan puncaknya saat siaran. Kami tidur pukul 12 malam, bangun pukul 3 pagi, mengeluarkan alat-alat dan menggotong alat yang sangat besar dari lantai 5 ke lantai 1, jalan kira-kira 500 meter, menyeberang ke kampus depan, naik ke lantai 3 dan menaruh alat-alat tersebut. Namun alat-alat tersebut belum dipasang, sehingga kami harus melakukan penyetelan atau setting. Semua setting itu nantinya selesai jam 6 atau 7 pagi. Lalu kami mandi dan siaran pada pukul 8 pagi hingga 2 siang. Setelah siaran, kami makan siang bersama, mencopot semua alat dan membereskannya hingga pukul 4 atau 5 sore. Belum selesai, kami harus rapat evaluasi, yang itu berarti kami "dipanggang" oleh senior dan direktur kami. Setelah selesai evaluasi, kira-kira pukul 8 atau 9 malam, kami mandi lalu makan, untuk yang acaranya belum jadi akan melakukan pengeditan. Lalu alur kegiatan kami dimulai kembali pukul 12 malam, begitu seterusnya selama  hampir 2 minggu. Namun, ya kami kuat karena kami sudah terlatih saat masa produksi yang kegiatannya tidak jauh berbeda. Berat? ya, itulah pekerjaan media. Saya kira yang saya lakukan terlalu berat karena ada beberapa faktor, 1. karena divisi produksi kami tidak melakukan prioritas untuk pembuatan acara dan jadwal produksi serta pengeditan acara menjadi kacau. 2. karena jumlah kami sedikit, hanya 19 orang, berbeda dengan stasiun tv pada umumnya yang melibatkan banyak orang, kami hanya sedikit dan pekerjaan kami hampir rata. Meskipun berat, semuanya terasa menyenangkan, banyak pengalaman baru yang tak terkatakan, saya menemukan keluarga baru dan rumah kedua, yaitu FIAT dan laboratorium audio visual, Terima kasih!
{ Read More }


IconIconIconFollow Me on Pinterest

Blogger news

Blogroll

What's Hot