Subscribe Via Email (Do Not Edit Here!)








Rabu, 05 Februari 2014

Cerita Pendek : "Pria yang Tak Mau Berlari"



Sepagi itu, sosoknya sudah menembus udara dingin dan embun pagi. Ia ditemani oleh kucuran keringat yang membasahi sekujur tubuhnya, mulai dari kepala hingga menggenangi punggung kaosnya. Pola nafasnya mantap meski kurang teratur. Gerakan kaki nya senada dengan tangannya dan membuat suatu ritme berpola. Jantungnya berdegup kencang tak mau berhenti sejalan dengan keinginannya yang tak mau berhenti. Ia boleh lelah, tetapi ia tetap berlari. Entah apa yang ada dalam pikirannya, sepagi itu pukul empat pagi ia sudah mulai berlari. Tidak ada yang salah dalam pemandangan itu. Seorang pria biasa yang sedang lari pagi, namun bisa dibilang terlalu pagi. Tidak ada yang istimewa selebihnya dari lari pagi. Hanya aktivitas olahraga murah yang bisa dilakukan semua orang. Hanya, orang yang berlari kala itu sedikit istimewa.

            “Lari?”
            “Ya, lari. Itu bagus untuk tubuhmu. Aku suka berlari”. Berlari? Tanyanya dalam hati penuh keheranan. Ia tak menyangka, gadis manis bermuka cerah itu suka dengan lari. Salah satu olahraga yang biasa pak Subrata sarankan. Ia teringat dengan guru olahraganya itu. Pak Subrata meyakinkanku bahwa berolahraga secara rutin itu baik untuk tubuhku. “Tidak usah muluk-muluk, hanya jogging”. Selalu. Selalu hal itu yang ia katakan setiap pelajaran olahraga. Untuk ukuran seorang siswa laki-laki,Dika bukanlah siswa yang menonjol dalam bidang olahraga. Ia lebih sering menghindari ajakan kawan-kawannya untuk sekedar bermain sepak bola atau voli. Dika tak memiliki kemampuan dalam olahraga. Dia sadari hal tersebut. Terutama setelah ia menuruti ajakan Yudhi, teman sekelasnya untuk bermain bola voli yang berakhir olok-olok untuk dirinya. Tak ada dalam keinginannya, untuk menekuni pelajaran olahraga. Ia tak suka olahraga. Ia tak pernah berolahraga.
            “Apa istimewanya dari berlari? Apa kau tidak merasa lelah?”. Gadis manis itu tersipu malu. Gadis tersebut paham betul kebiasaan laki-laki yang ada di hadapannya tersebut. Dika lebih menyukai bertatapan muka dengan layar di komputer miliknya hanya untuk membunuh waktu dengan memainkan karakter virtual buatan. “Aku tak paham. Kau bisa menyukai dan mencintai olahraga yang lain, kenapa harus berlari?”. Raut muka Dika berubah penuh keheranan. Antara tidak percaya namun ingin tahu. Kali ini, si gadis terdiam. Dia masih tersenyum. Terbentuk lesung pipit di kedua pipi nya. Tetapi tatapan si gadis menjadi kosong. Si gadis mengumpulkan tenaga untuk menatap wajah si lelaki, Dika, yang juga pacarnya.
            “Dia sangat cantik”. Batin dalam Dika. Hatinya bersorak. Pikirannya tenggelam dalam wajah pacarnya. Tidak ada yang buruk dari wajahnya. Semuanya indah! Sungguh. Di ruang tamu itu, terdapat lukisan pemandangan gunung lengkap dengan sungai yang jernih dan dihiasi hutan-hutan lebat. Tetapi mata Nadia lebih jernih dari sungai itu! Lebih putih dan lebih jernih! Bahkan lebih segar dari jus jeruk yang ia hidangkan untukku ini. Sebetulnya itu hanya sirup, tetapi menjadi lebih segar karena ia menghidangkan untukku, dengan wajah yang menarik itu.
            Semuanya terdiam. Gerakan waktu menjadi lebih lambat saat sunyi. Dika tak melepaskan pandangnya dari Nadia. Seakan seluruh semesta menunggu sesuatu. Bagi Dika, setiap kata yang keluar dari Nadia ibarat instrumen musik piano-yang biasa ibunya setel sekadar untuk meramaikan suasana rumah-yang memanjakan telinga. Namun kata-katanya kali ini menjadi sedikit sumbang. Dika masih menunggu dengan cemas kata-kata gadisnya itu, yang sangat ia cintai.
            “Saat berlari aku merasa bebas. Aku melihat dunia begitu indah dalam setiap langkah. Seakan seluruh beban dan permasalahanku tanggal seiring keluarnya keringatku. Bagiku, ini sebuah pelampiasan yang indah”. Sebuah ucapan yang tak diduga oleh Dika. Kali ini ia tak mampu berkata-kata. Yang ia tahu,Nadia menatap wajahnya dengan senyum yang tetap menawan, meskipun matanya menyiratkan sebuah kisah. Seakan gadisnya tersebut memiliki beban dan permasalahan yang besar, tetapi tidak mampu ia ucapkan dan tidak mampu ia hadapi. Dika tidak tahu, di balik senyum manisnya, tersimpan sebuah cerita mendalam. Dika keheranan, ia bisa melihat sorot mata sedih tersebut. Tetapi gadisnya tersebut terlalu pintar dalam seni menyembunyikan sedih, ia mampu tegar dengan selalu tersenyum, yang membuat Dika jatuh hati.  
            Sesaat kemudian, Nadia menceritakan sebuah kisah manis masa lalunya. Nadia mempunyai pacar yang ia sayang. Dia bahagia. Namun semua itu tidak berlangsung lama. Kisah cintanya harus berakhir. Pacarnya lebih sayang dengan mantannya. Dia sedih, perasaannya hancur saat itu. “Hatiku benar-benar terluka. Setiap hari aku mengurung diri dan menangis. Semua sakit ini tak bisa kulepaskan”. Nadia melanjutkan ucapannya “Aku pikir, tidak baik hari-hariku diisi dengan sedih. Aku butuh sebuah kegiatan yang dapat melampiaskan emosiku. Aku harus bahagia, aku malu mataku selalu sembab”. Kali ini semesta kembali terdiam. Waktu berjalan lebih lambat. Banyak kata-kata yang menggoda untuk keluar dari mulut Dika, tetapi entah kenapa ia memilih diam. Dalam satu hembusan nafas, Nadia melanjutkan kembali ucapannya “Suatu hari, aku sedih karena masih memikirkan mantanku. Kuambil sepatuku dan kucoba berlari. Tiba-tiba semua itu menjadi candu. Aku merasa segar. Aku merasa lega. Langkah kakiku memaksa untuk berlari lebih jauh. Aku merasa meninggalkan semua masalahku di belakang”. Ia mengakhiri ucapannya dengan senyum. Senyum yang menawan, namun dengan mata yang lega. Sepetinya ia lega mengucapkan suatu rahasia kecil dalam hidupnya dan berbagi dengan orang yang ia sayang saat ini. Kali ini Dika yang tersenyum. Ia bahagia mengetahui apa yang membebani pikiran gadisnya itu. Mulai saat itu Dika berjanji untuk menjaga rahasia kecil itu yang menjadikan Nadia seorang siswi yang mencatatkan waktu lari paling cepat di kelasnya.
            Dika malu. Dia memilih menarik selimutnya ketimbang beranjak dari kasurnya dan mengambil sepatu saat pagi. Baginya hawa dingin saat pagi lebih baik untuk dinikmati, bukan dihadapi.

            Hape Dika bergetar di saku celana seragamnya. Lebih baik kuperiksa nanti, pikirnya dalam hati. Ia lebih memilih untuk bersenda gurau dengan kawan-kawannya saat itu. Hari sudah siang, waktunya pulang ke rumah masing-masing setelah penat menghadapi pelajaran sehari penuh. Tapi Dika lebih memilih untuk menunda pulang ke rumah. Ibunya pergi hari ini, tidak ada yang memasak di rumah. Selain itu, ada ajakan dari kawan-kawannya untuk ditemani makan siang di kantin. Hari itu langit sedikit mendung.
            Kilatan petir di langit menandakan bahwa kali ini cuaca sedang tidak bersahabat. Titik-titik hujan memukul jendela. Hujan deras kala itu memaksa semua orang untuk diam di rumahnya masing-masing atau sekedar berteduh menghindari rintik air yang lebat. Tidak baik untuk bepergian saat ini. Hari itu, seakan-akan langit meluapkan emosinya, antara sedih bercampur dengan amarah, murung dan tak tenang. Sama dengan Dika saat ini. Suasana hati nya kacau. Pikirannya berat. Mendadak ia menjadi murung setelah membaca pesan yang dikirim Nadia. Layar HP nya masih aktif saat tergeletak di meja. Nadia mengakhiri hubungannya. Ia tak mau memberi tahukan alasannya. Nadia memang memberi alasan, tetapi terlalu ambigu dan sulit dimengerti oleh Dika. Tidak ada yang salah dari Nadia. Apa aku yang salah? Tetapi apa salahku? Aku menyayanginya, sungguh! Bahkan tak ada dalam pikiranku untuk membagi cinta dengan gadis lainnya! Aku tak pernah berlaku kasar padanya! Semua pertanyaan dan pernyataan tersebut melesat keluar bagaikan peluru yang ditembakkan senapan mesin. Ia bertanya-tanya dan tak mampu menjawab. Nadia berkata semua ini salahnya. Ia terlalu salah untuk membohongi seorang pria dengan perasaan palsu demi menenangkan hatinya. Rupanya cara ini salah. Semua ini tak menyelesaikan beban dan tak menyembuhkan luka nya. Ia meminta maaf dan pamit pergi. Dika terluka hatinya. Dadanya bagaikan diinjeksi sebuah suntikan besar. Lebih baik baginya untuk menghadapi suntikan dokter gigi, yang ia hindari selama ini.


            Dika masih meniti langkah dengan berlari. Ia semakin lelah. Tetapi perasaan kuat dalam hatinya menolak untuk berhenti. Peluh makin membasahi punggung kaosnya. Kali ini larinya semakin lambat dan ia mulai berjalan. Tak ada yang tahu saat itu ia masih sedih. Tak ada yang tahu saat ia masih kecewa. Hanya rumput, embun, dan orang-orang yang berlari yang menemaninya pagi itu. Tak ada yang berkata-kata. Tak ada yang berbicara. Hanya ada kicauan burung dan ayam jago yang berkokok serta nafasnya sendiri. Semua memiliki kehidupan dan permasalahannya sendiri. Pikiran Dika masih penuh. Ia tak boleh begini. 2 minggu lagi ada Ujian Nasional

Like the Post? Do share with your Friends.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IconIconIconFollow Me on Pinterest

Blogger news

Blogroll

What's Hot