Sepagi itu, sosoknya sudah menembus udara dingin dan
embun pagi. Ia ditemani oleh kucuran keringat yang membasahi sekujur tubuhnya,
mulai dari kepala hingga menggenangi punggung kaosnya. Pola nafasnya mantap
meski kurang teratur. Gerakan kaki nya senada dengan tangannya dan membuat
suatu ritme berpola. Jantungnya berdegup kencang tak mau berhenti sejalan
dengan keinginannya yang tak mau berhenti. Ia boleh lelah, tetapi ia tetap
berlari. Entah apa yang ada dalam pikirannya, sepagi itu pukul empat pagi ia
sudah mulai berlari. Tidak ada yang salah dalam pemandangan itu. Seorang pria
biasa yang sedang lari pagi, namun bisa dibilang terlalu pagi. Tidak ada yang
istimewa selebihnya dari lari pagi. Hanya aktivitas olahraga murah yang bisa
dilakukan semua orang. Hanya, orang yang berlari kala itu sedikit istimewa.
“Lari?”
“Ya,
lari. Itu bagus untuk tubuhmu. Aku suka berlari”. Berlari? Tanyanya dalam hati
penuh keheranan. Ia tak menyangka, gadis manis bermuka cerah itu suka dengan
lari. Salah satu olahraga yang biasa pak Subrata sarankan. Ia teringat dengan
guru olahraganya itu. Pak Subrata meyakinkanku bahwa berolahraga secara rutin
itu baik untuk tubuhku. “Tidak usah muluk-muluk, hanya jogging”. Selalu. Selalu
hal itu yang ia katakan setiap pelajaran olahraga. Untuk ukuran seorang siswa
laki-laki,Dika bukanlah siswa yang menonjol dalam bidang olahraga. Ia lebih
sering menghindari ajakan kawan-kawannya untuk sekedar bermain sepak bola atau
voli. Dika tak memiliki kemampuan dalam olahraga. Dia sadari hal tersebut.
Terutama setelah ia menuruti ajakan Yudhi, teman sekelasnya untuk bermain bola
voli yang berakhir olok-olok untuk dirinya. Tak ada dalam keinginannya, untuk
menekuni pelajaran olahraga. Ia tak suka olahraga. Ia tak pernah berolahraga.
“Apa
istimewanya dari berlari? Apa kau tidak merasa lelah?”. Gadis manis itu tersipu
malu. Gadis tersebut paham betul kebiasaan laki-laki yang ada di hadapannya
tersebut. Dika lebih menyukai bertatapan muka dengan layar di komputer miliknya
hanya untuk membunuh waktu dengan memainkan karakter virtual buatan. “Aku tak
paham. Kau bisa menyukai dan mencintai olahraga yang lain, kenapa harus
berlari?”. Raut muka Dika berubah penuh keheranan. Antara tidak percaya namun
ingin tahu. Kali ini, si gadis terdiam. Dia masih tersenyum. Terbentuk lesung
pipit di kedua pipi nya. Tetapi tatapan si gadis menjadi kosong. Si gadis
mengumpulkan tenaga untuk menatap wajah si lelaki, Dika, yang juga pacarnya.
“Dia
sangat cantik”. Batin dalam Dika. Hatinya bersorak. Pikirannya tenggelam dalam
wajah pacarnya. Tidak ada yang buruk dari wajahnya. Semuanya indah! Sungguh. Di
ruang tamu itu, terdapat lukisan pemandangan gunung lengkap dengan sungai yang
jernih dan dihiasi hutan-hutan lebat. Tetapi mata Nadia lebih jernih dari
sungai itu! Lebih putih dan lebih jernih! Bahkan lebih segar dari jus jeruk
yang ia hidangkan untukku ini. Sebetulnya itu hanya sirup, tetapi menjadi lebih
segar karena ia menghidangkan untukku, dengan wajah yang menarik itu.
Semuanya
terdiam. Gerakan waktu menjadi lebih lambat saat sunyi. Dika tak melepaskan
pandangnya dari Nadia. Seakan seluruh semesta menunggu sesuatu. Bagi Dika, setiap
kata yang keluar dari Nadia ibarat instrumen musik piano-yang biasa ibunya setel
sekadar untuk meramaikan suasana rumah-yang memanjakan telinga. Namun
kata-katanya kali ini menjadi sedikit sumbang. Dika masih menunggu dengan cemas
kata-kata gadisnya itu, yang sangat ia cintai.
“Saat
berlari aku merasa bebas. Aku melihat dunia begitu indah dalam setiap langkah.
Seakan seluruh beban dan permasalahanku tanggal seiring keluarnya keringatku.
Bagiku, ini sebuah pelampiasan yang indah”. Sebuah ucapan yang tak diduga oleh
Dika. Kali ini ia tak mampu berkata-kata. Yang ia tahu,Nadia menatap wajahnya
dengan senyum yang tetap menawan, meskipun matanya menyiratkan sebuah kisah.
Seakan gadisnya tersebut memiliki beban dan permasalahan yang besar, tetapi
tidak mampu ia ucapkan dan tidak mampu ia hadapi. Dika tidak tahu, di balik
senyum manisnya, tersimpan sebuah cerita mendalam. Dika keheranan, ia bisa
melihat sorot mata sedih tersebut. Tetapi gadisnya tersebut terlalu pintar
dalam seni menyembunyikan sedih, ia mampu tegar dengan selalu tersenyum, yang
membuat Dika jatuh hati.
Sesaat
kemudian, Nadia menceritakan sebuah kisah manis masa lalunya. Nadia mempunyai
pacar yang ia sayang. Dia bahagia. Namun semua itu tidak berlangsung lama.
Kisah cintanya harus berakhir. Pacarnya lebih sayang dengan mantannya. Dia
sedih, perasaannya hancur saat itu. “Hatiku benar-benar terluka. Setiap hari
aku mengurung diri dan menangis. Semua sakit ini tak bisa kulepaskan”. Nadia
melanjutkan ucapannya “Aku pikir, tidak baik hari-hariku diisi dengan sedih.
Aku butuh sebuah kegiatan yang dapat melampiaskan emosiku. Aku harus bahagia,
aku malu mataku selalu sembab”. Kali ini semesta kembali terdiam. Waktu
berjalan lebih lambat. Banyak kata-kata yang menggoda untuk keluar dari mulut
Dika, tetapi entah kenapa ia memilih diam. Dalam satu hembusan nafas, Nadia
melanjutkan kembali ucapannya “Suatu hari, aku sedih karena masih memikirkan
mantanku. Kuambil sepatuku dan kucoba berlari. Tiba-tiba semua itu menjadi
candu. Aku merasa segar. Aku merasa lega. Langkah kakiku memaksa untuk berlari
lebih jauh. Aku merasa meninggalkan semua masalahku di belakang”. Ia mengakhiri
ucapannya dengan senyum. Senyum yang menawan, namun dengan mata yang lega.
Sepetinya ia lega mengucapkan suatu rahasia kecil dalam hidupnya dan berbagi
dengan orang yang ia sayang saat ini. Kali ini Dika yang tersenyum. Ia bahagia
mengetahui apa yang membebani pikiran gadisnya itu. Mulai saat itu Dika
berjanji untuk menjaga rahasia kecil itu yang menjadikan Nadia seorang siswi
yang mencatatkan waktu lari paling cepat di kelasnya.
Dika
malu. Dia memilih menarik selimutnya ketimbang beranjak dari kasurnya dan
mengambil sepatu saat pagi. Baginya hawa dingin saat pagi lebih baik untuk
dinikmati, bukan dihadapi.
Hape
Dika bergetar di saku celana seragamnya. Lebih baik kuperiksa nanti, pikirnya
dalam hati. Ia lebih memilih untuk bersenda gurau dengan kawan-kawannya saat
itu. Hari sudah siang, waktunya pulang ke rumah masing-masing setelah penat
menghadapi pelajaran sehari penuh. Tapi Dika lebih memilih untuk menunda pulang
ke rumah. Ibunya pergi hari ini, tidak ada yang memasak di rumah. Selain itu,
ada ajakan dari kawan-kawannya untuk ditemani makan siang di kantin. Hari itu
langit sedikit mendung.
Kilatan
petir di langit menandakan bahwa kali ini cuaca sedang tidak bersahabat.
Titik-titik hujan memukul jendela. Hujan deras kala itu memaksa semua orang
untuk diam di rumahnya masing-masing atau sekedar berteduh menghindari rintik
air yang lebat. Tidak baik untuk bepergian saat ini. Hari itu, seakan-akan
langit meluapkan emosinya, antara sedih bercampur dengan amarah, murung dan tak
tenang. Sama dengan Dika saat ini. Suasana hati nya kacau. Pikirannya berat. Mendadak
ia menjadi murung setelah membaca pesan yang dikirim Nadia. Layar HP nya masih
aktif saat tergeletak di meja. Nadia mengakhiri hubungannya. Ia tak mau memberi
tahukan alasannya. Nadia memang memberi alasan, tetapi terlalu ambigu dan sulit
dimengerti oleh Dika. Tidak ada yang salah dari Nadia. Apa aku yang salah?
Tetapi apa salahku? Aku menyayanginya, sungguh! Bahkan tak ada dalam pikiranku
untuk membagi cinta dengan gadis lainnya! Aku tak pernah berlaku kasar padanya!
Semua pertanyaan dan pernyataan tersebut melesat keluar bagaikan peluru yang
ditembakkan senapan mesin. Ia bertanya-tanya dan tak mampu menjawab. Nadia
berkata semua ini salahnya. Ia terlalu salah untuk membohongi seorang pria
dengan perasaan palsu demi menenangkan hatinya. Rupanya cara ini salah. Semua
ini tak menyelesaikan beban dan tak menyembuhkan luka nya. Ia meminta maaf dan
pamit pergi. Dika terluka hatinya. Dadanya bagaikan diinjeksi sebuah suntikan
besar. Lebih baik baginya untuk menghadapi suntikan dokter gigi, yang ia
hindari selama ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar