Subscribe Via Email (Do Not Edit Here!)








Rabu, 26 Februari 2014

Janji Ujung Pagi



Langit yang kelam, diringi kilatan petir tanpa suara menemani saya malam ini. Maksud saya, pagi ini. Di ujung malam menuju pagi, saya dan kawan-kawan saya masih harus berpacu dengan waktu hanya untuk sekedar mengerjakan paper dan menyiapkan presentasi. Jadwal kami yang sibuk dan perbedaan jadwal di antara kami, memaksa untuk bekerja keras tanpa memikirkan waktu. Hal yang lumrah untuk seorang mahasiswa dan mahasiswi untuk mengerjakan tugas kuliahnya hingga awal pagi. Rasa-rasanya, 24 jam bukanlah sebuah batasan yang mengekang dan memaksa kami untuk mengatur aktivitas. Memang, dunia mahasiswa adalah dunia yang unik dimana waktu tak lagi dipandang dan 24 jam tidaklah cukup untuk beraktivitas dan tidur. Semua semata-mata untuk mengerjakan tuntutan kami sebagai mahasiswa dan mahasiswi, di hadapan dosen.

Kami semua sudah merasa lelah. Kantuk sudah terasa di pelupuk mata. Perut meraung-raung minta diisi. Aktivitas pikiran yang cukup menguras tenaga harus diimbangi dengan asupan gizi yang seimbang, dan porsi yang lebih, saya rasa. Saya lebih membayangkan diri saya sudah berada di kamar, pelan-pelan ditelan kasur empuk dan mengetuk gerbang mimpi untuk kembali berpetualang. Namun, yah, dosen kami bukanlah seseorang yang tak tanggung-tanggung untuk memberi tugas. Inilah kami, menghadapi batas manusia dari diri sendiri untuk mengerjakan tugas yang tenggat waktunya siang ini.

Tempat yang kami pilih untuk mengerjakan tugas pun haruslah tempat yang tepat. Selalu terbuka 24 jam 7 hari. Mempunyai koneksi internet yang memadai. Dan, kalau bisa, murah. Namanya juga mahasiswa. Tapi untuk urusan yang terakhir kami masih bisa berkompromi. Kami masih bisa menyesuaikan dengan hanya cukup minum minuman yang ada rasa-rasanya . Jadilah kami terduduk dan mengerjakan tugas itu di restoran fast food MCDonalds.

Tempat itu masih riuh ramai meskipun waktu sudah menunjukkan tengah malam. Tak ada yang beranjak dari kursinya. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Ada yang mengerjakan tugas seperti kami. Tapi ada juga manusia-manusia yang hanya menghabiskan waktu untuk berbincang, nongkrong, main kartu, bahkan tenggelam dalam ponselnya masing-masing. Entahlah, mungkin saya terasa kolot kalau mengucapkan ini, tapi saya iri dengan mereka yang masih punya waktu senggang dalam 24 jam. Saya haruslah mengatur sedemikian rupa agar bisa beristirahat dengan tenang. Namun mereka menyia-nyiakannya. Untuk sesekali bolehlah, tapi untuk menghabiskan waktu dan menggunakan uang hanya untuk hal semacam ini? Tolonglah, masih banyak potensi yang bisa digali daripada hanya tenggelam dalam ponsel masing-masing meskipun datang beramai-ramai bersama teman. Hanya untuk kumpul. Namun batin mereka bukan di tempat itu.

Akhirnya pekerjaan kami tuntas sudah. Kevin dan Vani menyelesaikan tugasnya dengan baik. Aldi mengerjakan dan harus begadang untuk mengerjakan tugas yang tenggat waktunya besok pagi jam tujuh. Arthur, otak dari semua pekerjaan kami, bertanggung jawab untuk mengecek lagi di kos dan menyunting serta memperbaiki apabila ada salah-salah tulis dalam pekerjaan kami.

“Temani aku ya, ke kimia farma”

Arthur menepuk pundak saya. Saya tahu maksud dari hal itu. Obat Arthur habis. Penyakitnya bukanlah penyakit biasa yang diderita orang. Penyakit langka. Bahkan obat nya adalah obat keras, yang tak sembarang orang sebenarnya boleh membeli obat tersebut, dan yang pasti, mahal.

Sejauh yang saya tahu, penyakit Arthur adalah penyempitan saraf di Otak bagian belakang. Untuk sekadar dibayangkan, penyakit ini bisa memberi batasan fisik kepada Arthur. Salah-salah, apabila dia terlalu lelah, dia bisa saja pingsan dalam keadaan epilepsi. Kejadian yang pernah dialami Arthur waktu dulu, sedang berjalan tiba-tiba dia tersungkur dan kejang. Saya dan kawan saya cukup khawatir mengetahui hal ini. Kami takut Arthur terlalu lelah dan tumbang di saat dan di tempat yang tidak tepat. Oh ya, obat nya adalah obat keras yang efek samping nya, apabila sering dikonsumsi akan berakibat pada kerja hati. Yang mengerikan adalah Arthur harus meminum obat ini 3 kali sehari. Setelah makan. Apabila dia bolong minum obat sekali saja, maka dia harus mengulang obat ini untuk jangka 3 tahun ke depan. Sangat mengerikan.

Saat di MCDonalds, saya dan Arthur sengaja tidak membeli makan dan minum. Tidak ada uang untuk sekedar membeli es krim. Setelah bayar parkir, uang yang tersisa di dompet saya adalah 4 ribu rupiah. Tanggal tua adalah musuh para mahasiswa. Arthur pun demikian, tak ada uang untuk membeli minum. Tahu kawannya kehausan, Aldi membelikan saya dan Arthur minum cola ukuran besar, ya ada inisiatif dari saya untuk memberi pengertian pada Aldi bahwa saya dan Arthur butuh minum, untuk urusan uangnya, nanti saya ganti. Saya kasihan melihat Arthur yang dia mengaku pada senin kemarin dia tidak tidur sama sekali, lalu kembali tidak tidur untuk mengerjakan tugas bersama saya hingga pagi sampai-sampai dia melewatkan kuliah sesi paginya. Menurut saya, dia terlalu lelah. Cola ukuran besar pastilah bisa menjadi apresiasi hasil kerja kerasnya, gratis. Untuk urusan cola arthur, saya yang bayar kali ini.

Singkat cerita, minuman sudah ada di hadapan kami bertiga. Kawan-kawan saya sudah membeli makan dan pesanan mereka sendiri. Tapi Arthur seakan tak mau. Dia melihat gelas itu dengan sedikit menerawang. Ingatlah saya dengan perkataannya. Setelah divonis penyakit penyempitan saraf tersebut, dia tak pernah lagi minum cola. Entah pantang atau tidak saya lupa. Yang pasti dia sudah lama sekali tidak minum cola. Melihat kawannya sudah membelikannya, dia pun minum cola tersebut. Hanya untuk membalas kebaikannya. Akhirnya saya meminta Arthur untuk minum milo nya Vani begitu ingat dengan penyakitnya.

Langit kala itu masih gelap. Mentari bersembunyi dalam kilatan-kilatan petir. Tolong jangan hujan dahulu, saya dan Arthur belum beli obat. Belum sampai rumah. Tolong tunda hujannya, Ya Tuhan. Dan benar saja, saya dan Arthur masih kering hingga sampai di apotek.

“Depapon 500 gram”

Arthur memesan obat di kasir. Ada lagu tembang lawas dari radio penjaga untuk menemaninya berjaga. Entah lagu apa, saya tahu itu tembang lawas. Mungkin lagunya koes ploes. Isinya tentang bersyukur dan tetap bahagia. Saya lupa lagunya. Namun yang saya ingat pasti, adalah saat Arthur berkata 

“Ya sudah begini ini, disyukuri saja, harus tetap bahagia”

Hati saya kala itu luluh. Saya tak mampu berkata-kata. Bahkan untuk sekedar berpikir. Saya apresiasi ucapan kuat nya dengan jempol dan senyum. Namun pikiran saya berat, hati saya terguncang. Mengapa teman saya harus seperti ini. Seseorang yang menjadi orang utama dalam pengerjaan tugas-tugas kami, orang yang sering berusaha keras, orang yang kemauan belajar nya tinggi, harus merasakan seperti ini. Harus memiliki batas. Mengapa orang-orang disana, yang tak memiliki penghalang dan tembok, tak memiliki penyakit, masih memiliki waktu, mereka malah menyia-nyiakan itu semua. Teman saya ini sadar, tembok yang ia hadapi itu sangat besar. Namun ia tetap tersenyum dan menaiki tangga untuk lolos dari tembok tersebut. Ia sadar, ia tidak akan mampu menghancurkan tembok penghalangnya. Bahkan ia sadar, ada kalanya ia akan lelah dan terjatuh karena terlalu tinggi tangga yang harus didaki. Tapi ia tetap melakukan itu semua. Sungguh, hati saya luluh.

Kami membeli obat pukul 1 pagi dan kembali ke kos an masing-masing. Dalam hati saya tergerak untuk menulis dan memposting tulisan ini. Saya ingin berjanji, untuk menemani dan menjadi partner, teman sekaligus sahabat yang baik untuk Arthur. Saya akan melakukannya dalam diam. Kasihan sekali apabila dia harus mendaki tembok itu sendirian. Saya akan berusaha tetap ada untuknya, hingga.......... dia sadar akan batasnya.



PS : Tulisan ini diposting pukul 2 pagi setelah pulang dari apotek. Dan saya sadar harus bangun pukul 6 karena ada kuliah sesi pagi. Namun saya benar-benar tergerak untuk menulis ini.
{ Read More }


Sabtu, 15 Februari 2014

Kisah Mcflurry yang menggiurkan

Mc FLurry? ya anda semua tidak salah baca. Anda pastilah tahu kalau itu adalah es krim produk dari rumah makan cepat saji M*D. Sudah pada tahu lah pokoknya. Lalu apa hubungannya? Oke ceritanya sedikit panjang, tolong disimak ya.

Semua bermula dari sabtu cerah yang sangat ber abu. Karena saya ada tugas kuliah dan bosan di kos, saya berangkat menuju rumah tman saya yang ada di jalan kaliurang. Untuk sampai kesana bisa dibilang cukup jauh, dan butuh konsentrasi ekstra, karena semua jalan ber abu, yang parah apabila jalanan yang tidak ada inisiatif dari warga sekitar atau komunitas untuk disiram air, maka susah sekali untuk melihat jalan. Oh ya, masker adalah suatu keharusan di saat seperti ini.

Lanjut, karena itu hari ke dua abu sampai di tanah Yogyakarta, banyak tempat yang belum bersih dari abu. Dan jujur, saya sendiri pun sangat malas untuk membersihkan motor saya sendiri. Lha wong cuma ditinggal aja udah buluk kok. Cuma di lap dikit, ditinggal 2 jam udah buluk lagi. Ya sudah saya merencanakan cuci motor, tapi nanti saja.

Sore nya, saya dan teman-teman saya ingin memantau situasi di Yogyakarta, ada usulan untuk membuat sebuah video liputan berkisar bencana abu ini. Untuk orang-orang yang tinggal atau biasa di Yogyakarta pasti tahu jalan kaliurang yang melewati GSP. Untuk yang belum tahu, GSP adalah Gedung merah buesar (gede banget lah pokoknya) milik UGM. Dari jalan kaliurang, kita bisa melihat dengan sangat jelas karena bentuknya yang besar dan berada di dekat jalan kaliurang. Bayangkan, merah dan besar lho. Saat saya melewati jalan kaliurang tersebut, seketika berubah seperti badai pasir (padahal belum pernah ngerasain). Jadi angin yang besar menerbangkan sebagian besar abu yang belum disiram air, karena jalan kaliurang belom disiram air. Yang parahnya, kami tidak bisa melihat jalanan sama sekali karena abu, bahkan GSP yang berada di kiri kami seakan menghilang karena abu yang ditiup angin tersebut.

Sesaat kemudian, kami sudah sampai di Tugu. Seperti yang diberitakan di TV, abu memang banyak di sekitaran tugu, namun sudah disirami air, sehingga tugu tidak begitu tebal abu nya. Namun sekitarnya masih tebal. Momen ini kami manfaatkan untuk foto-foto. Bukan bermaksud apa-apa, kami semua anak rantau dan berpikir rasional, ini memang bencana, tapi kami semua hanya ingin sedikit bahagia karena warung-warung makan langganan kami pada tutup semua.

Tiba-tiba ada gerimis, sontak kami semua kembali tancap gas. Yang ada di pikiran saya, ini akan menjadi hujan yang deras untuk membersihkan abu di Yogyakarta. Lalu kami menuju M*D di Sudirman. Tempat yang mahal untuk anak kos seperti kami, tapi bisa lah untuk berteduh. Saat membeli makan pun saya sedikit miris karena harus mengeluarkan uang lebih banyak dari biasanya. Meja sebelah saya kebetulan sedang menikmati McFlurry. Saya sebenarnya kepingin pake banget. Tapi perundingan saya dengan dompet tidak membuahkan hasil dan keputusannya saya harus menahan sabar dan keinginan saya. Ternyata, gerimis yang tadi hanya lewat, tidak berubah menjadi hujan besar yang saya perkirakan. Sedikit kecewa, saya melangkahkan kaki keluar bersama teman-teman saya. Bersamaan dengan itu, masuk 2 anak laki-laki yang (maaf) kucel. Lalu saya menuju parkiran untuk mengambil motor saya.

Saat sedang mengambil helm di motor, ada ibu-ibu yang menghampiri saya. Dia meminta uang untuk makan katanya. Bukannya saya jahat, tapi saya terpaksa menolak. Uang saya sudah keluar banyak di M*D tersebut. Tetapi entah kenapa saya merasa janggal dengan ibu-ibu yang minta-minta tadi. Karena bensin saya habis, saya mengisi bensin di sudirman, tepat di seberang M*D tadi. Karena ingin ke malioboro, saya bersama teman-teman saya melewati M*D yang tadi saya singgahi untuk makan.

Saya tidak percaya dengan apa yang saya lihat.

Ada ibu-ibu menggandeng anak perempuan. Di samping anak perempuan tadi ada 2 anak laki-laki.

2 anak tadi menggenggam sesuatu yang ajaib.

MCFLURRY COKLAT PERSIS YANG SAYA PENGEN

JARAN SIPITTTTTTTTTTTTTTT

saya benar-benar emosi sejadinya. Tadi ibu tersebut minta uang untuk makan tapi malah beli es krim. Yang enak dan mahal lagi. Memang hak setiap orang untuk menggunakan uang dan membeli es krim di M*D, tapi bukan begitu caranya dong. Mengemis, ngakunya untuk beli makan, eh malah beli es krim. Saya pun, lebih memilih makanan pokok dengan lauk pauk daripada es krim. Karena saya tahu prioritas mana yang lebih penting. Entahlah, yang penting saya sedikit lega karena tidak memberi dia uang, tapi tetap saja namanya bete. Kalau tadi benar saya kasih uang, saya akan menepi, mengambil es krim tadi. Saya gak rela!

*Postingan ini ditulis saat hujan deras mengguyur Yogyakarta. Walau sebentar, tapi diharapkan semua pihak untuk membersihkan abu yang sudah tebal. Oh ya, depan kamar kos saya jadi air terjun lumpur karena saluran air yang tidak kuat menahan air dan abu yang menjadi lumpur. Saat menulis ini saya tergopoh-gopoh menyelamatkan barang-barang sperti ember dan cucian serta jemuran. Bahkan jendela dan tembok kamar saya harus direlakan untuk jadi kanvas lukisan lumpur -______- *
{ Read More }


Kamis, 13 Februari 2014

Hujan Abu

Postingan pagi ini dimulai dari saya yang kebetulan hari jumat memang jadwal krs saya liburkan, sehingga jumat saya memang tidak ada kegiatan. Karena mumpung tidak ada kegiatan, saya bisa bangun sedikit siang dan waktu pagi bisa digunakan untuk berenang. (Baca Postingan saya sebelumnya karena kuliah saya pagi smua). Biasanya, Yoseph, teman kos saya yang paling rajin untuk diajak fitness dan renang. Oleh karena itu dia akan bangun dan membangunkan banyak orang yang sudah berencana untuk fitness dan renang. Pagi ini saya bangun sedikit siang dan malas, bahkan lebih memilih untuk dibangunkan yoseph saja.

Tapi saya dibangunkan oleh nada panggilan masuk dari ponsel saya. Papa saya telepon menanyakan bagaimana kabar saya. Bagaimana kos saya. Bagaimana hujan abu nya. Karena saat itu saya baru saja bangun dan kamar kos saya tertutup, saya bilang smuanya baik-baik saja. Tadi malam pun tidak ada hal yang aneh kata saya ( Ya memang lha wong udah tidur). Panggilan diakhiri, karena penasaran, saya keluar kamar.

Ternyata semua kata papa saya benar. Hujan abu dimana-mana. Kamar kos saya langsung berhadapan dengan tempat jemuran yang itu berarti ruang terbuka untuk menjemur. Semuanya berwarna abu-abu. Anak kos sibuk masing-masing. Ada yang bersih-bersih, ada yang foto, ada yang memantau berita. Mereka seakan antusias saat tahu saya sudah bangun dan menceritakan kronologisnya. Memang menyenangkan apabila hidup di kos yang orangnya supel semua.

Yoseph? Oh ya dia masih belum bangun sampai postingan ini dituliskan. Tadi malam saya sendiri yang tahu kalau dia masih mengerjakan tugas dan dia memang niat lembur (anak arsitek). Jadi kalau saya menunggu untuk dibangunkan dia pun percuma.







Itu ada sedikit foto yang menggambarkan pemandangan kos saya pagi ini, langsung dari kamera digital bang nanda. Bahkan mas ricky menceritakan kalau hujan abu sudah berlangsung sejak jam 4 pagi (Bangun untuk sholat subuh dia) yang itu berarti sebelum jam 4 sudah terjadi hujan abu.

Mari kita semua tundukkan kepala dan berdoa atas bencana yang sudah terjadi ini. Mari buka mata hati dan telinga serta bertobat atas semua kesalahan dan dosa kita. Untuk bencana yang terjadi berturut-turut, masihkah tetap berkeras hati dan kepala?






Nb : Hari ini valentine, memang tidak ada rencana untuk pergi keluar kos bahkan berencana untuk berdiam diri di kos, yah setidaknya saya juga tidak rugi. Oh ya, saya memang jomblo tapi saya tidak berdoa yang buruk-buruk dan jelek apalagi mengutuk hari (yang katanya) penuh kasih sayang
{ Read More }


Senin, 10 Februari 2014

Mesin Waktu

Postingan kali ini bermula dari pengalaman saya makan siang kemarin. Hari minggu kemarin kalau tidak salah, sudah lupa, ya sudahlah, itu juga tidak terlalu penting. Sebagai anak kos yang teladan, menikmati makan siang di luar adalah hal yang lumrah. Dan anak kos biasanya tidak punya kemampuan masak-memasak, bisa pun hanya menu2 lumrah dan murah seperti mi instan dan mentok-mentok nasi goreng. Kalau anak kos memang terbiasa membeli makan di luar, pokoknya menghindari masak sendiri.

Untuk memenuhi permintaan perut yang sudah meronta, saya mampir ke warung, bisa dibilang tempat makan, namanya Yamie Yo. Warung makan ini menjual bermacam-macam mi, mi biasa hingga mi hijau yang dicampur sayur. Selain itu ada banyak menu lain seperti nasi goreng, ayam goreng dan lain lain. Kali itu saya sedang ingin makan ayam katsu. Harganya juga tidak mahal kok, ramah lah untuk kantong mahasiswa.

Dan kali itu saya makan sendiri. Ya, saya sudah terbiasa makan sendiri. Tidak punya gandengan atau pasangan atau yang lazim disebut pacar membuat saya terbiasa makan sendiri. Saya juga bukan orang yang makan harus ditemani kok. Memang lebih asyik kalau ada teman untuk makan, tapi saya sudah terbiasa sendiri. Sejak saya kecil, saya sudah sering ditinggal di rumah sendirian. Karena tidak bisa memasak, saya mau tidak mau menjadi mandiri untuk mencari makan sendiri. Oleh sebab itu saya sudah terbiasa makan sendirian.

Warung Yamie Yo saat itu sedikit sepi. Ada 2 orang makan di pojok dalam, dan saya melewati serombongan cewek-cewek yang berjumlah 6 dan 2 cowok yang sedang makan satu meja. Selain itu tidak ada pelanggan lain di warung tersebut. Selagi saya berjalan melewati rombongan 8 orang yang sedang makan tersebut, ada cewek yang nyeletuk,

"Tuh kan! Anak SMP aja makan disini!"

Untuk ukuran orang yang gosip atau spontan, suaranya tergolong kencang. Saya mendengar ucapan cewek tadi. Selagi masih berjalan, saya mencari-cari siapa orang yang dituju cewek tersebut.

Tidak ada orang lain selain saya.

Bukan mas-mas yang berada di pojokan, dia bukan anak SMP

Kokoh yang jualan Yamie Yo? pasti juga bukan, karena kokoh yang jualan layak dipanggil opa

Dan pasti cewek tersebut menujukan ucapannya pada saya.

Setelah saya memesan makan dan duduk, saya berpikir kenapa saya dikomentari seperti itu. Kata banyak orang, muka saya itu imut. Tetapi saya menyadari, saya belum lama mencukur jenggot saya. Mungkin dia anggap saya anak SMP karena jenggot yang sudah habis saya cukur ini.

Karena jenggot yang dicukur, saya dikira anak SMP

Tapi saya pun malas untuk menumbuhkan jenggot saya. Jujur, jenggot ini adalah pemberian gen dari papa saya yang berbulu lebat. Bisa dibilang, saya bukan cuma punya jenggot, tapi brewok, jenggot di leher hingga jambang. Pernah saya iseng menumbuhkan brewok dan jambang saya, dan saya sukses dipanggil "Bapak" dimana saja.

Berbeda saat jenggot saya yang belum lebat dulu, saya sering dikira anak SMP waktu SMA. Pokoknya keliatan kayak anak kecil kata mereka-mereka yang mengomentari wajah saya.

Ya, apabila doraemon punya mesin waktu di laci meja nobita, kalau saya, saya punya mesin waktu, tepat di bawah dagu saya. Dicukur saya jadi anak kecil. Ditumbuhkan dikira kebapakan. Dan sejujurnya, saya lebih suka dikira lebih muda daripada lebih tua, jadi saya lebih mantap untuk mencukur meski dianggap kekanakan.
{ Read More }


Sabtu, 08 Februari 2014

Postingan Malam Minggu!

Halo halo, selamat malam untuk semuanya (Harap maklum karena saat menulis ini sedang malam hari). Oh ya, tak lupa mengucapkan selamat malam minggu untuk semuanya ya *Salim*

Gimana malam minggunya? Berkesan? Romantis? Atau miris?
Untuk orang-orang seperti saya, malam minggu itu sedikit miris #dihgitu #akurapopo

Ya karena itu tadi, saya belum punya pacar alias jomblo.


Tapi jujur, sejak kapan sih malam minggu jadi sakral? Dan kenapa orang-orang yang belum punya pasangan atau gandengan harus merasa tersingkirkan?

Bukan bermaksud membela diri, tapi setiap orang kan punya kehidupannya sendiri. Toh pilihan dia untuk tetap sendiri bukan? Ada cerita, maksud dan alasan dibalik itu semua. Gak semua yang pacaran itu bahagia kok *kemudian tos dengan para jomblo*

Sebenarnya sih ya, yang mau saya ucapkan sih tiap orang punya kehidupannya sendiri, dan tidak usah dipermasalahkan kehidupan cinta nya apalagi memojokkan para manusia yang belum punya gandengan. Ingat masih banyak yang harus dipikirkan selain kisah asmara, tanyalah diri sendiri mau jadi apa nanti? apakah sudah punya mimpi? apakah kamu sudah berada di jalur yang benar untuk mencapai mimpi tersebut.

Untuk saya sendiri sih, anda dilahirkan sendiri. Serius. Setiap orang mengurus kehidupannya sendiri. Memang kita makhluk sosial, tetapi anda tetaplah satu personaliti, yang unik dan berbeda satu sama lain. Tidak usah dipusingkan lah hal hal seperti itu, toh orang lain juga cuma bisa berbicara, mereka memang punya peranan dalam hidup anda, tapi sepenuhnya hidup ada di tangan anda sendiri bukan?


#kemudianhening

Tulisan saya tadi sebenarnya menampar diri saya sendiri T_____T

Oke postingan ini ditulis saat malam minggu dan saya sendiri menikmatinya dengan teman-teman saya. Intan dan Mito. Dua-duanya wanita asli bali. Oh ya, ada satu lagi namanya Oka, itu pun saya baru kenalan sama dia. Kami semua memang sedang tidak ada acara satu sama lain dan memutuskan untuk sekedar nongkrong di kafe. Suasanya sangat mendukung. Sendu dan Galau. Hujan, hanya kami di kafe tersebut, ada live music yang menyanyikan lagu yang menggetarkan hati dan membawa kami kembali ke masa masa asmara indah dulu. Di kafe tersebut memang menu nya mahal, tapi kita semua hanya pesan kopi kok.

Tapi yang membuat pertemuan tadi berharga adalah........

Intan dan Mito memberikan pandangan mereka sendiri akan definisi mereka tentang cinta, asmara dan pasangannya. Semua bermula dari saya yang ingin membantu Intan menyiapkan kado untuk mantannya. Dan menurut saya, itu terlalu bagaimana ya? Seperti tak pantas saja lah. Sudah tidak berhubungan tapi repot-repot menyiapkan hal macam-macam. Tapi saya sendiri pun sadar saya pernah mempunyai pemikiran seperti itu namun saya urung lakukan.

Tapi bukankah Cinta memang untuk memberi? Mengapa memberi menjadi suatu permasalahan saat status dipertanyakan? Karena memberi hanya memberi. Karena untuk memberi pada seseorang yang anda sayang bukankah itu dilakukan dengan sepenuh hati?

Namun berbeda dengan pemikiran logika kita. Untuk apa memberi? Toh bukankah situasinya sudah berbeda. Aku sendiri dan kamu sendiri. Bukan satu kesatuan. Tak usahlah melakukan hal yang aneh. Lakukan sewajarnya. Jatuh cinta tetapi jangan dramatis. Tetaplah memakai logika.

Yang kami bahas pun berlanjut tentang kawan mito yang memperjuangkan untuk kuliah di suatu universitas di Bali hanya untuk tetap bersama pacarnya. Padahal jurusan yang ia kuliahi bukanlah yang ia inginkan. Bukan yang ia harapkan. Hanya demi pacarnya. Dan sesuatu yang buruk terjadi, mereka putus. Dan kembali ke topik awal, jatuh cinta memang menyenangkan, tetapi tolong pakai logika. Pemikiranmu haruslah realistis, tak usah menjadi seseorang drama romantis dipenuhi kata "I can't live without you". Itu terlalu bodoh untuk kami. Logika janganlah menjadi bodoh hanya karena cinta. 

Dan pembahasan kami kembali memanjang membicarakan mantan. Dan intan secara ajaib membuat suatu quote

"It was good memories, But it won't last forever"

Ya,itu semua memang indah, dulu. Tapi untuk sekarang? biarlah untuk menjadi memori dan andaikan kamu harus berjalan, berjalanlah sendiri. Seiring perjalananmu kamu akan menemukan seseorang yang ingin berjalan di jalur yang sama denganmu. Yang ingin menggandeng tanganmu dan menempuh jalan yang berliku. Berpikirlah secara realistis, jangan sampai cinta membutakan mata dan pikiranmu. Sekian, jombs!
{ Read More }


Rabu, 05 Februari 2014

Balada Anak Kuliah : Pengisian KRS

Halo semuanya, selamat pagi siang atau malam untuk anda semua menyesuaikan waktu saat anda semua mampir disini.

Ehem.

Barusan saya udah publish satu karya saya waktu liburan natal 2013 kemaren, terinspirasi dari buku kumpulan cerpen (Which is my favourite genre book) , saya berusaha menulis dan hasilnya yang saya publish tersebut.

Skip skip,

Oh ya, sesuai dengan judul blog kali ini, saya bakal cerita tentang pengisian KRS (Kartu Rencana Studi), yang sangat penting dan familiar di kalangan mahasiswa. Untuk anda semua yang masih SMP atau SMA bahkan masih SD, bisa disimak postingan saya kali ini karena saya akan memberikan ilmu baru yang akan berguna di masa kuliah mendatang #ceilah #pret

Kuliah itu berbeda dengan tingkat pendidikan seperti SMA atau SMP, dalam kuliah, kalian bisa membuat jadwal sendiri sesuai keinginan kalian. Jadi kalau yang gak bisa bangun pagi bisa bikin jadwal kuliah siang. Selain itu kita bisa memilih dosen sesuai keinginan kita, gak seperti di SMA yang bisa aja dapet guru galak (I feel it man, jaman SMA ku dulu gurunya parah). Seems interesting right? oke ini bakal saya kasih waktu sesi kuliahnya

Sesi 1 : 07.30-10.00
Sesi 2 : 10.30-13.00
Sesi 3 : 13.30-16.00
Sesi 4 : 16.30-19.00

Sudah ada gambaran mengenai jadwal kuliah? Lalu ada yang namanya SKS, SKS adalah (Satuan Kredit Semester), anggap saja, 1 SKS itu 40 menit. Bisa dibilang SKS ini gampangnya jam pelajaran di sekolah.
Lalu anggap saja kalau kalian kuliah sesi 1, 2 SKS. Itu berarti 80 menit, jadi kalian kluiah mulai pukul 07.30 sampai 08.50, karena cuma 80 menit. Kalau sesi 1, 3 SKS ya berarti 120 menit, begitu seterusnya.

Sudah paham sampai disini? Oke, berikutnya adalah pengisian KRS, yang itu berarti kita buat jadwal kulaih kita sendiri. Berbeda dengan universitas lain, universitas saya itu harus manual, yang itu berarti gak bisa online dan datang sendiri ke kampus *nangis* *masih pengen di rumah*

Oh ya, jadi sebelum kalian ngisi KRS atau membuat jadwal kuliah kalian ke universitas, nantinya akan ada bimbingan pengisian KRS. Dalam bimbingan ini, nantinya akan ada dosen yang membimbing kalian dalam ngisi KRS. Tapi itu bisa aja berbeda, karena kebijakan tiap universitas pasti berbeda.

Jadi waktunya sudah tiba, untuk mengajukan KRS ke universitas. Dengan mantap saya rencanakan dan tuliskan jadwal kuliah saya. Idealnya, saya akan membuat jumat sebagai hari libur dan hari santai saya, jadi weekend nya panjang gitu. Seems interesting right? Tapi selama saya merencanakan jadwal kuliah saya, pihak kampus saya tidak menuliskan nama dosen sama sekali, jadi hanya jadwal kuliah yang dicantumkan. Oke, kalau mau dibilang nanti waktu kuliah akan sedikit misterius dan horor, bisa saja kelas yang kita ikutin dosennya enak, tapi bisa aja yang............ ya tau sendiri lah.

Pengisian KRS di kampus saya itu berdasarkan NPM (Nomor Pokok Mahasiswa) dan berhubung NPM saya termasuk bontot, saya harus antri cukup lama. Dan tibalah rombongan NPM akhir untuk input data ke komputer.

Dan hal paling horror terjadi

Banyak kelas yang udah penuh

Jadwal saya kacau karena NPM yang sebelumnya bisa merencanakan jadwal kuliah sekehendak hati

Sedangkan saya dan teman-teman saya? cuma dapet sisa

Kelas yang penuh biasanya kelas sesi 2 dan 3, kelas siang, dimana itu paling diincar karena mahasiswa kebanyakan bangun siang.

Tetapi, Puji Tuhan, saya gak kehabisan kelas (ada lho yang kehabisan kelas) dan jadwal ideal saya terpenuhi, yaitu jumat libur (Horeeeeee) tapi di sisi lain, sebenarnya saya menghindari sesi 1 karena saya malas bangun pagi

ternyata.kelas.saya.sesi.1.semua.dari.senin.sampe.kamis.

Balik jaman SMA lagi lah -________-

Dibalik itu semua, saya masih beruntung, teman seperjuangan saya dapet kelas yang ciamik. hari juamt sesi 1 ma 4. Dimana jumat itu hari yang paling "malas" untuk ke kampus. Dan di hari "malas" tersebut dia harus bangun pagi ikut sesi 1, trus pulang malam karena sesi 4, sesi 2 dan 3 nya gak bebas, gak bisa main lama-lama. Bisa tidur, tapi ya tanggung sebenarnya.

Yah, setidaknya gak kehabisan kelas lah, dan terhitung minggu depan mulai senin saya sudah kuliah lagi. Semoga kelas saya nanti dapet dosennya yang enak lah, gak bawel dan ribet serta galak, amin.

Kok jadi #curhat? katanya berbagi ilmu?

*Penutup postingan kali ini akan saya tulis jadwal kuliah saya semester 2, buat penanda aja sih, kalau mau dianggap #kode juga silahkan, hehehe*

Senin sesi 1 : Psikologi Komunikasi Kelas E
Senin sesi 2 : Metode Penelitian Sosial Kelas H
Selasa sesi 1 : Teori Komunikasi Kelas C
Selasa sesi 3 : Pancasial Kelas G
Rabu sesi 1 : Komunikasi Massa Kelas F
Rabu sesi 3 : Pengantar Ilmu Hukum Kelas A
Rabu sesi 4 : Komunikasi Persuasif Kelas D
Kamis sesi 1 : Komunikasi Lintas Budaya Kelas F
Kamis sesi 2 : Teori Komunikasi Kelas C
{ Read More }


Cerita Pendek : "Pria yang Tak Mau Berlari"



Sepagi itu, sosoknya sudah menembus udara dingin dan embun pagi. Ia ditemani oleh kucuran keringat yang membasahi sekujur tubuhnya, mulai dari kepala hingga menggenangi punggung kaosnya. Pola nafasnya mantap meski kurang teratur. Gerakan kaki nya senada dengan tangannya dan membuat suatu ritme berpola. Jantungnya berdegup kencang tak mau berhenti sejalan dengan keinginannya yang tak mau berhenti. Ia boleh lelah, tetapi ia tetap berlari. Entah apa yang ada dalam pikirannya, sepagi itu pukul empat pagi ia sudah mulai berlari. Tidak ada yang salah dalam pemandangan itu. Seorang pria biasa yang sedang lari pagi, namun bisa dibilang terlalu pagi. Tidak ada yang istimewa selebihnya dari lari pagi. Hanya aktivitas olahraga murah yang bisa dilakukan semua orang. Hanya, orang yang berlari kala itu sedikit istimewa.

            “Lari?”
            “Ya, lari. Itu bagus untuk tubuhmu. Aku suka berlari”. Berlari? Tanyanya dalam hati penuh keheranan. Ia tak menyangka, gadis manis bermuka cerah itu suka dengan lari. Salah satu olahraga yang biasa pak Subrata sarankan. Ia teringat dengan guru olahraganya itu. Pak Subrata meyakinkanku bahwa berolahraga secara rutin itu baik untuk tubuhku. “Tidak usah muluk-muluk, hanya jogging”. Selalu. Selalu hal itu yang ia katakan setiap pelajaran olahraga. Untuk ukuran seorang siswa laki-laki,Dika bukanlah siswa yang menonjol dalam bidang olahraga. Ia lebih sering menghindari ajakan kawan-kawannya untuk sekedar bermain sepak bola atau voli. Dika tak memiliki kemampuan dalam olahraga. Dia sadari hal tersebut. Terutama setelah ia menuruti ajakan Yudhi, teman sekelasnya untuk bermain bola voli yang berakhir olok-olok untuk dirinya. Tak ada dalam keinginannya, untuk menekuni pelajaran olahraga. Ia tak suka olahraga. Ia tak pernah berolahraga.
            “Apa istimewanya dari berlari? Apa kau tidak merasa lelah?”. Gadis manis itu tersipu malu. Gadis tersebut paham betul kebiasaan laki-laki yang ada di hadapannya tersebut. Dika lebih menyukai bertatapan muka dengan layar di komputer miliknya hanya untuk membunuh waktu dengan memainkan karakter virtual buatan. “Aku tak paham. Kau bisa menyukai dan mencintai olahraga yang lain, kenapa harus berlari?”. Raut muka Dika berubah penuh keheranan. Antara tidak percaya namun ingin tahu. Kali ini, si gadis terdiam. Dia masih tersenyum. Terbentuk lesung pipit di kedua pipi nya. Tetapi tatapan si gadis menjadi kosong. Si gadis mengumpulkan tenaga untuk menatap wajah si lelaki, Dika, yang juga pacarnya.
            “Dia sangat cantik”. Batin dalam Dika. Hatinya bersorak. Pikirannya tenggelam dalam wajah pacarnya. Tidak ada yang buruk dari wajahnya. Semuanya indah! Sungguh. Di ruang tamu itu, terdapat lukisan pemandangan gunung lengkap dengan sungai yang jernih dan dihiasi hutan-hutan lebat. Tetapi mata Nadia lebih jernih dari sungai itu! Lebih putih dan lebih jernih! Bahkan lebih segar dari jus jeruk yang ia hidangkan untukku ini. Sebetulnya itu hanya sirup, tetapi menjadi lebih segar karena ia menghidangkan untukku, dengan wajah yang menarik itu.
            Semuanya terdiam. Gerakan waktu menjadi lebih lambat saat sunyi. Dika tak melepaskan pandangnya dari Nadia. Seakan seluruh semesta menunggu sesuatu. Bagi Dika, setiap kata yang keluar dari Nadia ibarat instrumen musik piano-yang biasa ibunya setel sekadar untuk meramaikan suasana rumah-yang memanjakan telinga. Namun kata-katanya kali ini menjadi sedikit sumbang. Dika masih menunggu dengan cemas kata-kata gadisnya itu, yang sangat ia cintai.
            “Saat berlari aku merasa bebas. Aku melihat dunia begitu indah dalam setiap langkah. Seakan seluruh beban dan permasalahanku tanggal seiring keluarnya keringatku. Bagiku, ini sebuah pelampiasan yang indah”. Sebuah ucapan yang tak diduga oleh Dika. Kali ini ia tak mampu berkata-kata. Yang ia tahu,Nadia menatap wajahnya dengan senyum yang tetap menawan, meskipun matanya menyiratkan sebuah kisah. Seakan gadisnya tersebut memiliki beban dan permasalahan yang besar, tetapi tidak mampu ia ucapkan dan tidak mampu ia hadapi. Dika tidak tahu, di balik senyum manisnya, tersimpan sebuah cerita mendalam. Dika keheranan, ia bisa melihat sorot mata sedih tersebut. Tetapi gadisnya tersebut terlalu pintar dalam seni menyembunyikan sedih, ia mampu tegar dengan selalu tersenyum, yang membuat Dika jatuh hati.  
            Sesaat kemudian, Nadia menceritakan sebuah kisah manis masa lalunya. Nadia mempunyai pacar yang ia sayang. Dia bahagia. Namun semua itu tidak berlangsung lama. Kisah cintanya harus berakhir. Pacarnya lebih sayang dengan mantannya. Dia sedih, perasaannya hancur saat itu. “Hatiku benar-benar terluka. Setiap hari aku mengurung diri dan menangis. Semua sakit ini tak bisa kulepaskan”. Nadia melanjutkan ucapannya “Aku pikir, tidak baik hari-hariku diisi dengan sedih. Aku butuh sebuah kegiatan yang dapat melampiaskan emosiku. Aku harus bahagia, aku malu mataku selalu sembab”. Kali ini semesta kembali terdiam. Waktu berjalan lebih lambat. Banyak kata-kata yang menggoda untuk keluar dari mulut Dika, tetapi entah kenapa ia memilih diam. Dalam satu hembusan nafas, Nadia melanjutkan kembali ucapannya “Suatu hari, aku sedih karena masih memikirkan mantanku. Kuambil sepatuku dan kucoba berlari. Tiba-tiba semua itu menjadi candu. Aku merasa segar. Aku merasa lega. Langkah kakiku memaksa untuk berlari lebih jauh. Aku merasa meninggalkan semua masalahku di belakang”. Ia mengakhiri ucapannya dengan senyum. Senyum yang menawan, namun dengan mata yang lega. Sepetinya ia lega mengucapkan suatu rahasia kecil dalam hidupnya dan berbagi dengan orang yang ia sayang saat ini. Kali ini Dika yang tersenyum. Ia bahagia mengetahui apa yang membebani pikiran gadisnya itu. Mulai saat itu Dika berjanji untuk menjaga rahasia kecil itu yang menjadikan Nadia seorang siswi yang mencatatkan waktu lari paling cepat di kelasnya.
            Dika malu. Dia memilih menarik selimutnya ketimbang beranjak dari kasurnya dan mengambil sepatu saat pagi. Baginya hawa dingin saat pagi lebih baik untuk dinikmati, bukan dihadapi.

            Hape Dika bergetar di saku celana seragamnya. Lebih baik kuperiksa nanti, pikirnya dalam hati. Ia lebih memilih untuk bersenda gurau dengan kawan-kawannya saat itu. Hari sudah siang, waktunya pulang ke rumah masing-masing setelah penat menghadapi pelajaran sehari penuh. Tapi Dika lebih memilih untuk menunda pulang ke rumah. Ibunya pergi hari ini, tidak ada yang memasak di rumah. Selain itu, ada ajakan dari kawan-kawannya untuk ditemani makan siang di kantin. Hari itu langit sedikit mendung.
            Kilatan petir di langit menandakan bahwa kali ini cuaca sedang tidak bersahabat. Titik-titik hujan memukul jendela. Hujan deras kala itu memaksa semua orang untuk diam di rumahnya masing-masing atau sekedar berteduh menghindari rintik air yang lebat. Tidak baik untuk bepergian saat ini. Hari itu, seakan-akan langit meluapkan emosinya, antara sedih bercampur dengan amarah, murung dan tak tenang. Sama dengan Dika saat ini. Suasana hati nya kacau. Pikirannya berat. Mendadak ia menjadi murung setelah membaca pesan yang dikirim Nadia. Layar HP nya masih aktif saat tergeletak di meja. Nadia mengakhiri hubungannya. Ia tak mau memberi tahukan alasannya. Nadia memang memberi alasan, tetapi terlalu ambigu dan sulit dimengerti oleh Dika. Tidak ada yang salah dari Nadia. Apa aku yang salah? Tetapi apa salahku? Aku menyayanginya, sungguh! Bahkan tak ada dalam pikiranku untuk membagi cinta dengan gadis lainnya! Aku tak pernah berlaku kasar padanya! Semua pertanyaan dan pernyataan tersebut melesat keluar bagaikan peluru yang ditembakkan senapan mesin. Ia bertanya-tanya dan tak mampu menjawab. Nadia berkata semua ini salahnya. Ia terlalu salah untuk membohongi seorang pria dengan perasaan palsu demi menenangkan hatinya. Rupanya cara ini salah. Semua ini tak menyelesaikan beban dan tak menyembuhkan luka nya. Ia meminta maaf dan pamit pergi. Dika terluka hatinya. Dadanya bagaikan diinjeksi sebuah suntikan besar. Lebih baik baginya untuk menghadapi suntikan dokter gigi, yang ia hindari selama ini.


            Dika masih meniti langkah dengan berlari. Ia semakin lelah. Tetapi perasaan kuat dalam hatinya menolak untuk berhenti. Peluh makin membasahi punggung kaosnya. Kali ini larinya semakin lambat dan ia mulai berjalan. Tak ada yang tahu saat itu ia masih sedih. Tak ada yang tahu saat ia masih kecewa. Hanya rumput, embun, dan orang-orang yang berlari yang menemaninya pagi itu. Tak ada yang berkata-kata. Tak ada yang berbicara. Hanya ada kicauan burung dan ayam jago yang berkokok serta nafasnya sendiri. Semua memiliki kehidupan dan permasalahannya sendiri. Pikiran Dika masih penuh. Ia tak boleh begini. 2 minggu lagi ada Ujian Nasional
{ Read More }


Minggu, 02 Februari 2014

Blog baru nih!

Halo, lama gak nulis nih. Akhirnya karena banyaknya buku yang dibaca (padahal yang dibaca cuma komik ma buku ketengan) dan beberapa web yang sepertinya keren sekali bahasa penulisannya, niat untuk blogging datang kembali. Padahal, saya sebelumnya sih sudah pernah nge blog jaman SMP.
 Serius.

Jaman-jaman umur segitu sih saya udah nge blog.

Padahal teman-teman saya baru mulai mencari jati diri yang biasanya ditandai dengan sedikit labil. Bisa dibilang alay sih. Yah, saya setidaknya sudah melewati masa-masa yang cukup memalukan untuk diingat tetapi harus dilewati untuk menjadi pria sejati.

Oke, skip skip Terhitung dari sekarang, blog saya yang dulu : duniayangluas.blogspot.com sudah tidak dipakai lagi. Kenapa gak di non aktifkan? gak bisa. Iya saya cupu, gak tau cara menghapusnya. Biarlah itu menjadi bukti dari keberadaan saya jaman alay dahulu. Sebenarnya sih, blog yang itu buat jaman SMA, yang jaman SMP udah lupa web nya. Yah setidaknya saya masih selamat dari malu dan caci maki kalau banyak yang tahu blog saya dulu

Well, sebenarnya selain bahan bacaan dan web, tugas kuliah juga memaksa saya untuk menulis banyak. Ya, saya sudah kuliah. Waktu bergulir terlalu cepat ya? Saya ini tipe orang yang suka memperbincangkan banyak hal dan berusaha mengkomunikasikannya kok. Tapi karena malas dan belum paham soal tulis menulis akhirnya saya mundur dari nulis blog. Sekarang? setidaknya saya sudah punya niatan untuk menulis.

Dari kata-kata tadi pasti pada tahu saya kuliah di jurusan mana. Pokoknya blog ini akan berisi kisah macam-macam. Paling banyak pasti kisah sehari-hari. Dan akan diselingi video dan foto, bahkan liputan tentang food (Food blogging) Semoga ini tidak hanya rencana, tapi jadi kenyataan.

Oh ya, jangan kaget juga kalau ada tulisan cerita pendek, saya mau minta pendapat anda semua tentang tulisan saya.
 Dan nantinya blog ini mau saya hubungkan dengan web academia edu saya : https://uajy.academia.edu/RakaSiwi Sekian dan kalau sedang main di Jogja (Domisili saya sekarang) hubungi saya di duniayangluas@gmail.com :)
{ Read More }


IconIconIconFollow Me on Pinterest

Blogger news

Blogroll

What's Hot